Senin, 02 September 2013

WACANA BERBENTUK DESKRIPSI

A. PENGANTAR
Deskripsi ialah tulisan yang berusaha memberikan perincian atau melukiskan dan mengemukakan objek yang sedang dibicarakan (seperti orang, tempat suasana, atau hal lain).  Dalam menulis deskripsi, setidaknya ada dua hal penting yang perlu kita miliki. Pertama, kesanggupan berbahasa yang kaya akan nuansa dan bentuk. Kedua, kecermatan pengamatan dan ketelitian penyelidikan terhadap objek yang akan ditulis.
Dengan memenuhi kedua persyaratan itu, kita sanggup menggambarkan objek tulisan ke dalam rangkaian kata-kata yang penuh arti dan tenaga, sehingga pembaca dapat menerimanya dan seolah-olah melihatnya, mendengarnya, menciumnya, atau merasakannya.  Pilihan kata yang tepat dapat melahirkan gambaran yang hidup dan segar dalam imajinasi pembaca.

B. MACAM DESKRIPSI

Tulisan jenis deskripsi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu deskripsi sugestif dan deskripsi teknis (deskripsi ekspositoris).

1. Deskripsi Sugestif
Deskripsi sugestif yaitu deskripsi yang bertujuan membangkitkan daya khayal, kesan atau sugesti tertentu, seolah-olah pembaca melihat sendiri objek (yang dideskripsikan) secara keseluruhan seperti yang dialami secara fisik oleh penulisnya.  Ini diusahakan penulis dengan memindahkan kesan-kesan, hasil pengamatan, dan perasaannya kepada pembaca.  Di samping itu, penulis juga menyampaikan sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan pada objek (yang akan ditulis).  Jadi, deskripsi sugestif berusaha menciptakan penghayatan terhadap objek melalui imajinasi pembaca.
Objek yang dapat ditulis menjadi deskripsi sugestif tidak hanya terbatas pada apa yang dapat diserap oleh pancaindra (dilihat, didengar, dicium, dirasa, atau diraba).  Hal lain, misalnya perasaan karena ketakutan, kecemasan, keengganan, kejijikan, cinta, terharu, benci, dan dendam juga dapat ditulis ke dalam deskripsi sugestif.  Suasana dan keadaan dalam suatu peristiwa, bahkan apa yang kita pikirkan dan kita rencanakan, bisa pula diungkapkan ke dalam deskripsi sugestif. Berikut ini salah satu contoh deskripsi sugestif yang membicarakan objek tempat.


Kilometer Nol, Sebuah Lambang

      

       Sebuah tugu di ujung sebelah utara Pulau Weh, Aceh, berdiri tegak setinggi delapan meter.  Landasannya, beton berteratak mirip tangga bersusun lima, dengan panjang dan lebar sekitar enam meter.  Tentu itu terletak di sebuah semak belukar di bilangan Jaboi, Kotamadya Sabang.
Itulah Kilometer Nol Indonesia.  Berada di tugu itu, terasa sesuatu merayap di kalbu, perasaan keindonesiaan.  Lagu patriotik Dori Sabanq Sampai Merauke seakan-­akan terngiang-ngiang di telinga.  Kita sedang menginjak setapak tanah di ujung paling barat Nusantara.
Lambang Garuda begitu megah bertengger di puncak tugu.  Di bawah kaki Sang Garuda, ada relief yang melukiskan untaian zamrud kepulauan di Indonesia.  Memang, sempat timbul tanda tanya, apakah Kilometer Nol ini benar menjadi ukuran pasti dimulainya bentangan jalan raya dari uiung barat Indonesia ke timur.  Akan tetapi, berada di titik itu, slogan Sabang-Merauke tiba-tiba menjadi sangat  bermakna.
Dari titik nol kilometer ini, jalan hanya selebar tiga meter.  Itu pun hanya permukaan sekitar dua meter yang kelihatan, selebihnya tertutup semak belukar.  Sulit dibayangkan, jika ada kendaraan dua arah berada di atas jalur itu.  Jarak Kilometer Nol ke kota Sabang adalah 22,5 km.  Lalu, dari Sabang terbentang lagi jarak 28 mil laut atau hampir 52 km dan tiga jam perjalanan feri ke ujung utara daratan Sumatera.
Jalan menuiu Kilometer Nol, hampir tak berbicara sebagai sebuah jalan raya.  Kilometer Nol pun seakan-akan tak berbicara sebagai tanda kilometer di tempat lain.  Bahkan pualam bertuliskan "KM 0" telah dicopot tangan-tangan jahil.  Sedangkan tubuh tugu yang kesepian itu tak pernah dihiraukan sebagai tanda kilometer jalan raya.  Akan tetapi, dalam keheningan belukar di Jaboi, di bawah bola-bola awan yang keperakan, di sela-sela deburan ombak, tugu itu tetap tegar sebagai sebuah lambang yang berbicara tentang kesatuan Indonesia. (Sumber: Kompas, 15 Maret 1987)



2. Deskripsi Teknis
Deskripsi teknis yaitu deskripsi yang bertujuan memberikan identifikasi atau informasi objek, sehingga pembaca dapat mengenalnya bila bertemu atau berhadapan dengan objek itu.  Karena sifatnya yang hanya bertujuan menyampaikan informasi teknis, deskripsi jenis ini memerlukan ketepatan informasi mengenai objek yang tengah digarap. Deskripsi teknis tidak berusaha menciptakan kesan atau imajinasi pada pembaca.  Deskripsi teknis sekadar berusaha menanamkan pengertian seseorang tentang suatu hal.
Seluruh objek yang dapat diinformasikan secara teknis dapat ditulis ke dalam deskripsi teknis, seperti pesawat terbang, bahasa, pertanian, pertambangan, industri, koperasi, irigasi, teknologi modern, pendidikan, dan kesenian. Berikut ini contoh deskripsi teknis.


Tentang Agroindustri

     

Salah satu sektor yang mempunyai arti strategis dalam Pembangunan Nasional Jangka Panjang adalah pengembangan sektor agroindustri.  Agroindustri adalah kegiatan industri yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan pertanian serta jasa bagi kegiatan tersebut.
Titik berat Pembangunan Jangka Panjang adalah pembangunan ekonomi dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dengan bidang industri yang kuat ditunjang oleh pertanian yang tangguh, yang dapat membawa perubahan fundamental dalam struktur perekonomian Indonesia, sehingga produksi nasional yang berasal dari sektor di luar pertanian merupakan bagian yang makin besar dan akhirnya menjadi tulang punggung perekonomian.
Industri yang kuat adalah industri yang strukturnya kukuh dan berakar pada kemampuan sumber daya alam yang dimiliki dan yang dapat menjelmakon kaitan ke depan, ke samping, dan ke belakang dengan industri lainnya.  Pertanian yang tangguh adalah yang mampu menyediakan baban baku hasil pertanian dalam jumlah, mutu, dan waktu yang dapat mendorong pertumbuhan industri.
Dengan demikian, sektor agroindustri merupakan mata rantai penghubung antara sektor pertanian dan sektor industri.  Pengembangan sektor agroindustri di samping mempunyai arti strategis dalam kerangka Pembangunan Nasional Jangka Panjang juga dapat meningkatkan daya serap tenaga kerja dengan membuka spektrum baru lapangan kerja yang luas dan beragam, baik formal maupun nonformal.
Ruang lingkup agroindustri yang luas memungkinkan tenaga kerja informal bisa diserap lebih banyak.  Agroindustri meliputi industri pengolahan hasil pertanian, industri peralatan dan mesin pertanian serta industri jasa pertanian. lndustri pengolahan hasil pertanian mempunyai lima subsektor, yaitu: Industri pengolahan tanaman pangan, perkebunan, hasil hutan perkebunan, dan peternakan.  Industri peralatan dan mesin pertanian mencakup industri peralatan dan mesin pertanian budidaya serta pengolahan.  Industri jasa sektor pertanian meliputi perdagangan, konsultasi, dan komunikasi. (Sumber: Suara Karya, 6 Mei 1985)



C. PENDEKATAN DESKRIPTIF
Bagaimana cara penulis meneropong atau melihat objek yang akan ditulis, dan sikap apa yang harus diambil agar penulis dapat menggambarkan objek secara tepat, merupakan pendekatan deskriptif Ini dapat ditempuh melalui tiga macam cara.
Pertama, melalui pendekatan realistis.  Dengan pendekatan ini, objek yang tengah diamati harus dituliskan seobjektif-objektifnya.  Artinya, objek yang tengah diamati harus dilukiskan sesuai dengan keadaan yang nyata.  Perincian-perincian dan perbandingan antara satu bagian dengan bagian yang lain, harus dipaparkan sedemikian rupa sehingga tampak seperti dipotret
Kedua, melalui pendekatan impresionistis.  Dengan pendekatan ini penulis menggambarkan atau melukiskan objek secara subjektif. Artinya, objek yang akan digambarkan atau dilukiskan dikemukakan oleh penulis secara bebas dan berdasarkan penafsirannya saja.  Penulis harus menyeleksi bagian-bagian yang diperlukan dari kenyataan-kenyataan yang hendak dideskripsikan secara cermat.
Ketiga, melalui pendekatan sikap penulis.  Dengan pendekatan ini akan terlihat bagaimana sikap penulis terhadap objek yang akan digambarkan atau dilukiskan.  Penulis dapat mengambil salah satu sikap, seperti masa bodoh, bersungguh-sungguh dan cermat seenaknya, dan sebagainya.  Sikap-sikap ini berhubungan pula dengan tujuan yang akan dicapai penulis, sifat objek, dan orang yang membaca deskripsinya.


D. LANGKAH-LANGKAH MENULIS DESKRIPSI

Menulis deskripsi memerlukan langkah-langkah atau tahapan.  Langkah yang pertama hingga langkah yang terakhir merupakan satu rangkaian yang harus diperhatikan dan perlu dikerjakan secara taat asas.  Tahapan atau langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagai berikut

1.      Menetapkan Tema Tulisan
Langkah yang pertama ialah menetapkan tema tulisan.  Tema tulisan yaitu gagasan, persoalan, masalah, atau ide yang akan kita kemukakan dalam tulisan.  Karena tulisan yang hendak kita kembangkan berbentuk deskripsi, tema tulisan tentu berupa objek yang akan kita tulis itu.  Misalnya, kita hendak menulis deskripsi sugestif tentang kegiatan yang terdapat di sekolah.  Karena tema ini terlalu luas maka perlu dipersempit atau dibatasi.  Dari sini dapat ditetapkan beberapa tema kecil, seperti upacara bendera, pergelaran seni, atau pertandingan olahraga.
Contoh lain ialah jika kita hendak menulis deskripsi sugestif tentang sejarah perjuangan pahlawan nasional.  Dari sini dapat ditentukan tema kecilnya, umpamanya tokoh Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Sisingamangaraja, Imam Bonjol, M. Husni Thamrin, Dewi Sartika, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain..
Contoh lain lagi ialah jika kita hendak menulis deskripsi sugestif berupa tempat bersejarah yang terdapat di sekitar tempat tinggal kita (masih satu kecamatan, satu kabupaten, atau satu provinsi).  Objeknya dapat berupa candi, masjid, gereja, istana, makam, benteng, tugu, atau bekas peninggalan bersejarah lainnya.
Seandainya kita hendak menulis deskripsi teknis tentang hasil pertanian, objek tulisan bisa berupa padi, kelapa, teh, kopi, anggur, dan lain-lain.  Jika deskripsi teknis itu menggarap tema hasil tambang, objek tulisan dapat berupa batu bara, emas, minyak tanah, tembaga, nikel, dan lain-lain.

2. Menetapkan Tujuan Tulisan
Langkah yang kedua ialah menetapkan tuiuan kita menulis deskripsi.  Dengan menulis deskripsi maka tujuan yang hendak dicapai ialah memberikan gambaran dan rincian suatu objek kepada pembaca.  Jika yang - kita tulis berbentuk deskripsi sugestif maka tujuan menulis ialah berusaha menciptakan penghayatan melalui imajinasi pembaca terhadap objek tertentu.  Akan tetapi, jika yang kita tulis itu berbentuk deskripsi teknis maka tujuan menulis ialah berusaha menanamkan pengertian kepada pembaca terhadap objek tertentu dengan cara memberikan identifikasi dan informasi mengenai objek tersebut Umpamanya kita hendak menulis deskripsi sugestif tentang jalannya upacara penaikan bendera di sekolah.  Tujuan kita menulis ialah memberikan gambaran kepada pembaca tentang jalannya upacara penaikan bendera agar pembaca dapat menghayatinya.
Jika kita hendak mentilis deskripsi sugestif tentang sejarah perjuangan pahlawan Cut Nyak Dien maka tujuan kita menulis ialah memberikan gambaran kepada pembaca tentang sejara,i perjuangan Cut Nyak Dien agar pembaca dapat menghayatinya.
Jika kita hendak menulis deskripsi teknis tentang hasil bumi kelapa maka tujuan kita menulis ialah memberikan identifikasi dan informasi mengenai kelapa kepada pembaca agar pembaca tahu dan mengenalnya.

3. Mengumpulkan Bahan Tulisan
Langkah yang ketiga ialah mengumpulkan bahan tulisan.  Bahan-bahan tulisan dapat diperoleh melalui berbagai macam cara, di antaranya ialah dengan mengadakan pengamatan dan peninjauan langsung terhadap objek yang akan ditulis.  Ini adalah cara yang terbaik.
Di samping cara demikian, pengumpulan bahan tulisan juga dapat dilakukan dengan membaca buku, majalah, surat kabar, bahan bacaan lainnya yang memuat gambaran, lukisan, rincian, atau identifikasi dan informasi mengenai objek yang sedang ktia garap dalam tulisan.  Cara seperti ini disebut studi bacaan atau studi kepustakaan.
Cara lain lagi yang dapat dikerjakan dalam pengumpulan bahan tulisan ialah melalui wawancara dengan orang-orang yang pernah melihat atau menyaksikan objek tulisan kita.  Wawancara dapat pula dilakukan dengan para ahli, pakar, atau orang yang mempunyai autoritas (kewenangan) terhadap objek  tulisan.
Melalui cara pengamatan, jika kita hendak menulis deskripsi sugestif tentang upacara penaikan bendera di sekolah, bahan tulisan yang dapat diperoleh dan dikumpulkan adalah waktu upacara, petugas pelaksana upacara, tempat upacara, peserta upacara, pembina upacara, pesan pembina upacara, dan suasana upacara.
Melalui gabungan berbagai macam cara pengumpulan bahan tulisan, jika kita hendak menulis deskripsi teknis tentang industri kertas, bahan-bahan yang dapat diperoleh ialah manfaat kertas, bahan baku industri kertas, pabrik-pabrik kertas, bahan baku baru industri kertas, dan produk lain dari bahan baku baru industri kertas.

4. Menyiapkan Kerangka Tulisan
Langkah yang keempat ialah menyiapkan kerangka tulisan.  Kerangka tulisan disusun berdasarkan bahan-bahan yang telah terkumpul.  Karena bahan tulisan masih bersifat global atau garis besarnya saja, rincian mengenai bahan tulisan perlu kita buat.
Bahan tulisan yang telah dirinci harus ditentukan pikiran-pikiran yang telah dipilih kemudian disusun dan ditata secara kronologis dengan memperhatikan kesatuan dan kebulatan gagasan. Pikiran-pikiran yang menyimpang sebagai hasil pemilihan bahan tulisan sebaiknya dibuang atau dikesampingkan.
Umpamanya kita hendak menulis deskripsi tentang pelaksanaan upacara penaikan bendera di sekolah dengan bahan-bahan yang telah terkumpul seperti tampak pada langkah ketiga, maka kerangka karangannya tampak seperti berikut ini.

I.                    Waktu upacaraabendera
a.       tepat pukul 07.00
b.      siswa berbaris
II.                 Tempat upacara
a.       bertegel dan bersih
b.      pohonan dan bunga
III.               Petugas pelaksana upacara
a.       kebijaksanaan sekolah
b.      bertanggung jawab
IV.              Peserta upacara
a.       para guru
b.      para karyawan dan tata usaha
V.                 Suasana upacara
a.       khimad
b.      disiplin
VI.              Pembina upacara
a.       kepala sekolah
b.      bapak atau ibu guru
VII.            Pesanpembina upacara
a.       kewajiban kita
b.      rajin belajar

5.    Mengembangkan Tulisan
Langkah kelima atau langkah yang terakhir ialah mengembangkan tulisan. Pengembangan tulisan dikerjakan setelah kerangka tulisan atau kerangka karangan disiapkan.  Dalam mengembangkan tulisan sebaiknya kita memperhatikan penggunaan ejaan dan tanda baca.  Selain itu, pilihlah kata-kata yang tepat dan susunlah kalimat-kalimat yang menarik, bervariasi, dan efektif Singkatnya, pergunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam pengembangan tulisan.
Pengembangan pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas menjadi kalimat­kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas, juga harus diperhatikan. Penempatannya pun perlu memperoleh perhatian.  Kalimat utama dapat ditempatkan di awal alinea, di akhir alinea, atau di awal alinea yang kemudian diulang di akhir alinea.
Jika kita menulis deskripsi tentang pelaksanaan upacara penaikan bendera di sekolah dengan menggunakan kerangka karangan seperti tampak pada langkah keempat, pengembangan tulisannya tampak seperti berikut ini.


Di sekolahku upacara penaikan bendera dilaksanakan pada setiap hari Senin.  Tepat pukul 07.00 para siswa turun ke lapangan.  Setelah para siswa berbaris rapi, upocara pun dimulai.
Upacara dilaksanakan di lapanqan sekolah.  Lapangan itu bertegel dan bersih.  Di pinggir lapangan tumbuh rimbun pohonan dan bunga-bunga yang indah.
Secara bergiliran setiap kelas meniadi petugas upacara.  Hal ini sudah merupakan kebijaksanaan sekolah agar para siswa belajar berorganisasi.  Selain itu, juga bertuluan agar para siswa bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diberikan oleh sekolah.
Seluruh pelajar denqan sendirinya menjadi peserta upacara.  Di samping itu, para guru dan para karyawan tata usaha juga menjadi peserta upaccra.
Suasana upacara berlangsung tertib.  Seluruh peserta upacara dengan khidmat mengikuti upacara.  Para siswa juga menunjukkan disiplin yang tinggi selama mengikuti upacara.
Setiap upacara berlangsung selalu hadir pembina upacara.  Biasanya yanq menjadi pembina upacara ialah kepala sekolah.  Akan tetapi, jika kepala sekolah berhalangan hadir, bapak atju ibu guru dapat tampil sebagai pembina upacara.
Yang selalu kuingat jika mengikuti upacara ialah pesan pembina upacara.  Isinya antara lain ialah bahwa penyelanggaraan upacara penaikan bendera merupakan kewajiban kita dalam menghormati kedaulatan negara dan jasa para pahlawan.  Kecuali itu, para pelajar juga diimbau agar rajin belajar.


Setelah pengembangan kerangka karangan menjadi karangan selesai dikerjakan, kita tinggal memilih dan menentukan judul yang sesuai.  Memang, judul karangan dapat kita buat setelah kita selesai mengembangkan tulisan.  Dengan memperhatikan tema tulisan, judul yang sesuai adalah "Upacara Penaikan Bendera di Sekolahku".


E.    RANGKUMAN

1.      Deskripsi ialah tulisan yang berusaha memberikan perincian atau tulisan yang melukiskan dan mengemukakan objek yang sedang dibicarakan (orang, tempat, suasana, atau hal lain).
2.      Ada dua macam deskripsi, yaitu deskripsi sugestif dan deskripsi teknis (deskripsi ekspositoris).
3.      Deskripsi sugestif ialah deskripsi yang berusaha membangkitkan daya khayal, kesan atau sugesti tertentu, seolah-olah pembaca melihat sendiri obiek yang dideskripsikan secara keseluruhan seperti yang dialami secara fisik oleh penulisnya.
4.      Deskripsi teknis ialah deskripsi yang bertujuan memberikan identifikasi dan informasi objek, sehingga pembaca dapat mengenalnya bila bertemu atau berhadapan dengan objek tersebut
5.      Ada tiga macam pendekatan dalam menulis deskripsi, yakni pendekatan realistis, pendekatan impresionistis, dan pendekatan sikap penulis.
6.      Dalam pendekatan realistis, penulis melukiskan objek secara objektif
7.      Dalam pendekatan impresionistis, penulis melukiskan objek secara subjektif
8.      Dalam pendekatan sikap penulis, penulis melukiskan objek dengan menggunakan sikapnya.
9.      Ada dua hal penting yang harus dikuabai jika kita hendak menulis deskripsi.  Pertama, kesanggupan berbahasa.  Kedua, kecermatan pengamatan dan ketelitian penyelidikan terhadap objek yang akan ditulis.
10.  Ada lima langkah yang harus dikerjakan jika kita hendak menulis deskripsi, yakni menetapkan tema tulisan, menetapkan tujuan tulisan, mengumpulkan bahan tulisan, menyiapkan kerangka tulisan, dan mengembangkan tulisan.

WACANA BERBENTUK ESAI

A. PENGANTAR
Esai sering dianggap sebagai tulisan yang berhubungan dengan karya sastra semata.  Padahal esai tidak hanya dapat digunakan untuk membicarakan karya sastra.  Akan tetapi, esai juga dapat digunakan untuk membicarakan pokok bahasan lainnya.
Esai ialah tulisan yang membicarakan pokok masalah tunggal yang biasanya be­rangkat dari pandangan pribadi penulisnya.  Jika kita menulis esai, kita menyampaikan gagasan kita itu setelah kita informasikan.  Akan tetapi melalui esai, pembaca juga kita buat mengerti dan mempercayai gagasan kita itu sepenuhnya, seperti halnya kita se­bagai penulis memikirkan pokok masalahnya.

B.     JENIS ESAI
Ada tiga jenis esai yang dapat kita kembangkan menjadi tulisan, yaitu esai reflektif, esai argumentatif, dan esai sastra.

1. Esai Reflektif
Esai reflektif adalah suatu kegiatan kontemplatif (perenungan) terhadap pokok persoalan yang ditentukan. Esai reflektif menguji keterampilan kita untuk berpikir dan mendeskripsikan, mengatur gagasan, menggunakan pengalaman, imajinasi, dan pengetahuan umum kita.
Ada dua kelompok besar esai reflektif, yaitu esai deskriptif-reflektif dan esai abstrak.
Esai deskriptif-reflektif merupakan esai reflektif yang memerlukan banyak deskripsi dan refleksi. Melalui esai jenis ini, kita harus mampu membuat kesimpulan dari apa yang kita deskripsikan.  Selain itu, melalui esai ini pun kita tidak hanya diharapkan untuk mendekripsikan apa yang kita bicarakan, tetapi kita juga diharapkan untuk mendeskripsi­kan pandangan kita tentang apa yang kita bicarakan itu.
Esai abstrak merupakan esai reflektif yang lebih menekankan penalaran daripada deskripsi.  Melalui esai jenis ini, kita lebih dituntut untuk terampil bernalar daripada mendeskripsikan apa yang kita bicarakan.  Selain itu, melalui esai jenis ini kita harus mengutamakan perasaan dan pandangan kita terhadap pokok persoalan yang kita bic­arakan.Berikut ini contoh wacana esai reflektif.

Tampomas II



Kami akan tetap mencarimu, anak yang kehilangan pelampung, begitulah radio itu bersuara. Serak, gemeretak, pecah-ppcah, storing.  Laut tidak lagi tampak laut.  Hanya gemerlap, sampai jauh, dan suara radio itu mendesak-desak ke sana.
Matahari membersihkan langit.  Angin merapikan awan.  Kami akan tetap men­carimu, anak yang kehilangan pelampung, begitulah radio itu berkata: Tapi siapa­kah engkau, radio yang tak jelas gelombongnya?
Kami adalah sebuah sumber.  Kami yang akan tetap mencarimu, anak yang hilang dari kapal yang terbakar.  Kami adalah semua pihak.  Kami adalah sebuah regu SAR, yang tak beralamat, yang tak berpeta, tak berpasukan.  Kami adalah sebuah pertanyaan yang penasaran, sebuah pencarian yang tak bisa terbatas. Katakan lagi, apa yang kau ingin cari.
Kami berbunyi seperti puting-puting, kami tak tampak seperti garis lintang, kami tertera poda astronomi, kami bagian dari alam dan manusia.  Kami adalah yang mencarimu, akan menemukanmu, menghapus terik hari pada ubun-ubunmu, mengu­curkan air es pada hausmu, menyisihkan asin dari tenggorokmu.  Kami adalah rin­dang yang melindungimu, anak yang ditinggalkan pelampung.  Soudara yang bicara pada radio tanpa sender, sebutkan apa maumu!
Kami akan tetap mencarimu.  Kami meniti titik-titik dari Masalembo, menyeberang laut, ke pelbagai paragraf dokumen pelayaran.  Kami ingin tahu, Remotion yang manakah untukmu, siapakah yang menjemputmu, dan adakah ia terbaring dengan mata merah dan memimpikan api.  Kau tak akaa mendapatkan apa-apa, saudara yang bicara pada radio, kau tak akan mendapatkan apa-apa.  Anak yang hanyut itu telah hanyut.  Ikan-ikan telah memungutnya.  Gonggang dan gelombanq telah menampung kesepiannya sampai ke dasar.  Di sana gelap hanya sebentar, koa tahu, sebuah khayal bagi penyelam, sebuah ilusi pado snorkel, sebuch jarak yang hanya syarat.  Akan tetapi, kami akan tetap mencarimu, anak yang kehilangan pelampung, sampai ke dasar laut, melihat koyakan tubuhmu.  Sampai ke dasar kantung dan kenangan sendiri - karena kami semua bersalah, hallo, karena kami semua ber­salah . . . .(Ditulis oleh Goenawan Mohamad, Cataton Pinggir 1, hlm. 506)

2. Esai Argumentatif
Jika kita menulis esai argumentatif, kita harus memenuhi satu persyaratan panting, yaitu keterampilan untuk bernalar dan kemampuan untuk mengatur gagasan di dalam satu aturan yang logis.  Kita menulis esai argumentatif, misalnya untuk membantah atau menentang suatu proposisi tanpa perlu mencoba mempersuasi pembaca untuk menyetu­jui kita, untuk berargumentasi dengan cara sedemikian rupa guna mempersuasi pem­baca untuk menyetujui kita untuk mencoba memecahkan suatu - masalah, dan untuk membahas atau mendiskusikan suatu masalah tanpa perlu mencapai pemecahan. Berikut ini contoh wacana esai argumentatif

Bahasa



Bahasa, kata orang tua kita, menunjukkan bangsa.  Itu tak berarti bahwa orang tua kita sudah memikirkan suatu konsep 'nasionalisme", tentang keutuhan bangsa (notion) dengan bahasa.
Sebab bila kita terlemahkan dan renungkan kembali, kalimat di atas sebenarnya hanya menunjukkan kecenderungan suatu struktur masyarakat tertentu: keinginan untuk menilai kelas sosial seseorang dari cara bertutur orang itu.  Dengan kato lain, seorang di timbang martabat dan latar belakangnya - apakah ia bangsawan atau bukan - dari cara ia menempatkan kata, dari loqu ia mengucapkan kalimat.
Hal ini bisa terlihat dengan jelas dalam bahasa Jawa misalnya.  Seorang Jawa yang beriagak priyayi, tapi tak tahu di mana ia harus memakai kata sore dan di mana ia harus menggunakan kata tilem (kedua-duanya berarti "tidur"), akan tak diakui sebagai anggota lapisan yang luhur.  Setidaknya, ia akan dianggap kurang tahu adat.
Maka bahasa pun ikut berfungsi sebagai pengontrol tingkah laku individu.  Pak tani tak bisa akan seenaknya bersikap kepada Pak Bupati, karena Sejak awal proses yang berlangsung di kepalanya untuk menyatakan diri, ia sudah harus menempuh jalur yang ditentukan.
Memang menakjubkan bagaimana bahasa itu bisa menjadi semacam alat peng­gerak dari jauh, dalam suatu mekanisme remote control, bagi individu yang ratusan ribu jumlahnya. jelas suatu evolusi yang paniang dalam seiarah sosial-politik telah membentuk jaringan semacam itu.  Dan sejarah sosial-politik itu pula, dengan segala korban dan pemenangnya, yang telah menciptakan pusat-pusat tertentu - tempat orang mengukur diri dalam berbahasa dan beradat-istiadat.  Bahasa Jawa punya bahasa jawa Surakarta, bahasa Bugis punya bahasa Bugis-Bone.
Bahasa Indonesia, sebaliknya, belum mempunyai suatu centre of exellence yang sedemikion.  Begitu ia berkembang dari bahasa Melayu-Riau meniadi bahasa peng­antar untuk seluruh Nusantara, don apalagi setelah ia memencor di zaman Indonesia merdeka, ia 'kehilangan' suatu pusat.  Mungkin tak ado jeleknya.  Bahasa ini dengan demikian menjadi bahasa yang mudah diikuti, memiliki basis pendukung yang semakin luas, dan dengan demikian mempunyai kemungkinan yang semakin kaya.  Tak ada ukuran yang mana yang "baik dan sopan" dan mana yang tidak. Ia tak perlu menjadi mahal untuk dipelajari.
Namun barangkali, seperti kata ahli bahasa, kita membutuhkan kesamaan dalam lambang-lambang.  Kalau tidak, bahasa Indonesia bukanlah bahasa persatuan.  Kita membutuhkan 'pembakuan".  Dari semangat ini lahirlah ejaan baru, misalnya.
Ketika para ahli bahasa berhasil memperkenalkan dan mengharuskan kita mema­kai ejaan yang diperbarui, enam tahun yang lalu, suatu momentum sebenarnya terbangun.  Tak kurang dari Kepala Negara sendiri yang menganjurkan agar kita 'berbahasa Indonesia yang baik dan benar"-apa pun artinya 'baik dan benar' itu.  Di TVRI muncul pelajaran bahasa Indonesia.  Di koran-koran diskusi teriadi.  Di Jakarta nama-nama toko dan gedung tak boleh menggunakan bahasa asing.
Akan tetapi, ahli bahasa, dengan segala kecenderungan teknokratisnya, rupanya memang tak bisa diharapkan menjadi para penggerak masyarakat.  Momentum yang terjadi telah terlepas.  Kita tak segera memanfaatkannya.  Seminar demi seminar selesai, belum juga terdengar jawab ke masyarakat:setelah ejaan, apa?  Kita bahkan tambah 'Suyono' ataukah 'Sudjono'?
Sementara itu, ketika para ahli bahasa kita sibuk memikirkan bahasa tulisan (ejiaan adalah sendi pertamanya), kita pun seperti lupa pentingnya bahasa lisan, yong mungkin merupakan bahasa komunikasi 75% atau lebih dalam hidup kita: radio, TV, khotbah, pidato di balai desa.  Kita lalai barangkali bahwa dengan memprioritaskan bahasa tulisan, kita memprioritaskan satu segi dari bahasa kita yang terbatas.
Akan tetapi, barangkali bahasa memang menunjukkan bangsa.  Dalam arti lain bahwa apa yang baik dan apa yang terlantar di sana mencerminkan apa yang baik dan apa yang terlantar di antara kita. (Ditulis oleh Goenawan Mohomad, Cataton Pinggir 1, hlm. 316-317)


3. Esai Sastra
Esai sastra adalah persepsi kita (sebagai penulis esai) terhadap sastra (bersifat umum, universal); dan atau suatu karya dalam genre tertentu yang telah bersifat khusus, berkepribadian dan unik dari pengarangnya.
Esai sastra sebaiknya kita tulis berdasarkan penerimaan kita terhadap karya sastra.  Itu sebabnya esai sastra berangkat dari hasil karya sastra yang telah kita baca.  Ini juga berarti bahwa dalam menulis esai sastra kita tidak menerapkan suatu dalil atau teori umum ke dalam karya sastra itu.
Ada beberapa pendekatan yang dapat kita lakukan jika kita menulis esai sastra. Pendekatan tersebut adalah pendekatan yang berfokus pada teks, pendekatan historis, pendekatan biografis, pendekatan sosial, dan pendekatan psikologis. Berikut ini contoh wacana esai sastra.

"Berilah Aku Satu Kata Puisi"



. . . . . . Berilah aku satu kata puisi
 daripada seribu rumus ilmu
yang penuh janji
 yang menyebabkan aku terlontar
kini jauh dari bumi yang  kukasih.
Angkasa ini bisu.
Angkasa ini sepi.
Tetapi aku telah sampai pada
tepi.  Darimana aku tak mungkin
lagi kembali.
(Soebagio Sastrowardojo, Manusia Pertama di Angkasa Luar, 1961).

Manusia pertama di angkasa luar (bukan Gagarin, Titof atau pun Sheppard) bagi Soebagio Sastrowardojo adalah korban.  Ilmu penuh janji, tapi apa jadinya dengan orang yang satu ini?
Bagi para ahli ilmu, ia dikirim dalam pesawat ruang angkasa untuk dilihat bagaimana reaksi tubuh dan jiwa manusia di situ (monyet dan anjing juga diperlaku­kan demikian).  Orang itu hanya satu dari sejumlah alat-alat eksperimen.  Situasinya yang khusus dan konkrit tidak penting. Ia dipasang sebagai hasil abstraksi.
Ada benarnya bila kita membutuhkan suatu prestasi insaniah yang lain: kita menyodorkan seni, puisi.  Dalam saiak Soebagio Sastrowardojo, manusia pertama di angkasa luar itu pada akhirnya juga memintanya.  Sebab jika seni adalah pemberon­takan seniman pada realitas, saya kira itu berarti ia tidak ingin menyerah kepada kebenaran rasionil menurut penerimaan manusia pada umumnya; ia ingin menjadi pribadi dalam situasinya yang khusus.  Seruan agar diciptakan seni yang "bisa atau mudah dimengerti" (oleh semua orang, oleh rakyat) pada dasarnya mendasarkan seni kepada kebenaran rasionil.
Tapi realitas yang hanya diwakili oleh penampilan hasil prestasi rasional tidaklah lengkap.  Alfred North Whitehead: "Apabila kita memahami segalanya tentang ma­tahari, segalanya tentang atmosfir dan sebagainya tentang rotasi bumi, kita masih terluput untuk melihat kecemerlangan sinar matahari terbenam".  Di saat melihat sinar matahari itu kita pun masing-masing punya pengalaman sendiri, yang talk sepenuhnya bisa dikomunikasikan secara persis, jelas. (Ditulis oleh Goenawan Mohamad, Kesusastraan daon Kekuasaan, hlm. 72-73)



C.RANGKUMAN
1.      Esai ialah tulisan yang membicarakan pokok masalah tunggal yang biasanya berangkat dari pandangan pribadi penulisnya.
2.      Ada tiga jenis esai, masing-masing adalah esai reflektif, esai argumentatif, dan esai sastra.
3.      Esai reflektif adalah esai yang berisi suatu kegiatan kontemplatif terhadap pokok persoalan yang ditentukan dan yang berguna untuk menguji keterampilan kita dalam berpikir, mendeskripsikan, mengatur gagasan, menggunakan pengalaman, imajinasi, dan pengetahuan umum kita.
4.      Esai argumentatif ialah esai yang berisi penalaran dan pengaturan gagasan di dalam aturan yang logis dan yang berguna untuk berargumentasi.
5.      Esai sastra adalah esai yang berisi penerimaan dan pandangan penulis terhadap karya sastra.
6.      Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam menulis esai sastra adalah pendekatan yang berfokus pada teks, pendekatan historis, pendekatan biografis, pendekatan sosial, dan pendekatan psikologis.

KARANGAN PERSUASI

A. PENGANTAR
Persuasi ialah tulisan yang bertujuan meyakinkan pembaca agar melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh penulis pada saat sekarang maupun pada waktu yang akan datang.  Dengan tujuan akhir agar pembaca melakukan sesuatu, maka persuasi termasuk dalam cara-cara untuk mengambil keputusan. Dengan demikian, pembaca merasa bahwa keputusan yang telah diambilnya merupakan keputusan yang benar, bijaksana, dan dapat dilakukan tanpa paksaan.
Seperti halnya tulisan argumentasi, tulisan persuasi juga memerlukan bukti dan fakta.  Bukti dan fakta berfungsi sebagai sarana untuk membujuk, mendorong, dan meyakinkan pembaca agar mengambil keputusan sesuai dengan keinginannya.
Unsur terpenting persuasi ialab kepercayaan.  Dengan kepercayaan inilah pembaca diharapkan melakukan sesuatu.  Singkatnya, persuasi adalah salah satu usaha menciptakan kesesuaian atau kesepakatan melalui kepercayaan.
Banyak bentuk tulisan persuasi yang sudah dikenal oleh umum, antara lain propaganda yang dilaksanakan oleh golongan-golongan atau badan-badan tertentu, semua jenis iklan, dan kampanye lisan.  Semua bentuk persuasi ini mempergunakan pendekatan emotif, yaitu berusaha membangkitkan dan merangsang emosi pembaca. Berikut ini contoh wacana persuasi yang berasal dari seruan Presiden Suharto pada tahun 1982 yang ditujukan kepada generasi muda.


Kalian, generasi muda sekarang, hendaknya belaiar dari seiarah generasi muda pendahulu kalian.
Tiap zaman mempunyai ciri-cirinya sendiri.  Masing-masing mempunyai tantangan yang berbeda.  Tapi satu hal yang sama tiap zaman menuntut kepeloporan generasi mudanya.
Sekarang, kalian generasi muda Indonesia, hidup dalam zaman yang berbeda dengan zaman generasi muda pendahulu kalian.  Kalian menghadapi tantangan yang lain, tapi tidak kalah besar dibanding tantangan di masa-masa lalu.
Kalian adalah generasi muda dari suatu bangsa yang sedans bergumul dengan keterbelakangan.
Kalian adalah generasi muda dari suatu bangsa yang sedang bergulat dengan pembangunan.
Bangsa kalian sedang menghadapi tantangan-tantangan pembangunan yang sangat besar.  Karena itu, saya tahu, kalian tidak ingin menjadi generasi yang santai, tidak mau meniadi generasi muda yang manja.
Untuk mereka yang masih bersekolah, belajarlah dengan sungguh-sungguh.  Tuntutiah ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal kalian dalam mengabdi kepada bangsa dan tanah air di kemudian hari.
Untuk mereka yang sudah mulai bekerja, bekerjalah dengan baik.  Tunjukkan kepada masyarakat bahwa kalian mampu bekerja dan berprestasi.  Sadarilah bahwa pengabdian kepada bangsa dan tanah air tidak harus hanya dengan kerja-kerja besar.  Bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh di bidang kalian masing-masing adalah juga suatu pengabdian.  Sebab, sekarang dan masa-masa mendatang, kita memerlukan generasi yang mnmpu bekerja dengan tekun untuk mengisi kemerdekaan bangsa kita. Pak Horto Pandaangan dan Harapannya, hlm. 492)


Wacana di atas dapat digolongkan sebagai wacana persuasi.  Isi wacana tersebut mengajak dan mengimbau generasi muda agar belajar dan bekerja dengan sebaik­baiknya untuk mengisi kemerdekaan.

B.LANGKAH-LANGKAH MENULIS PERSUASI
          Sama seperti tulisan argumentasi, penulisan persuasi juga melalui langkah-langkah secara taat asas, yaitu sebagai berikut

1. Menentukan Tema Tulisan
          Langkah yang pertama ialah menentukan tema tulisan.  Tema dapat digali dan diperoleh melalui berbagai macam cara, seperti pengamatan, pengalaman, pendapat, dan sikap penulis. Tema yang akan kita tulis sebaiknya tidak terlalu luas.  Jika kita menemukan tema yang masih terlalu luas, tema tersebut harus dipersempit atau dibatasi.  Dengan demikian, penulis lebih ringan dan mudah dalam mengumpulkan dan menyeleksi bahan tulisan, dan kemudian mengembangkannya menjadi tulisan yang menarik. Tema yang dapat kita kembangkan ke dalam tulisan persuasi, antara lain:
(a)      perlunya kita berolahraga
(b)      perlunya kita menghemat energi
(c)      perlunya kita menjaga kelestarian lingkungan hidup
(d)      perlunya kita memelihara dan meningkatkan ketahanan sekolah
(e)      perlunya kita memelihara dan meningkatkan keamanan, kesehatan, dan keselamatan para pekerja.

2. Menentukan Tujuan Tulisan
          Tujuan menulis persuasi pada umumnya ialah membujuk, mendorong, meyakinkan, dan mengajak pembaca agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulisnya.  Dengan memperhatikan tema-tema seperti yang tertera pada langkah pertama, tujuan menulis persuasi ialah:
(a)    membujuk, mendorong, meyakinkan, dan mengajak pembaca agar gemar berolahraga
(b)   membujuk, mendorong, meyakinkan, dan mengajak pembaca agar menghemat penggunaan energi
(c)    membujuk, mendorong, meyakinkan, dan mengajak pembaca agar menjaga kelestarian lingkungan hidup
(d)   membujuk, mendorong, meyakinkan, dan mengajak pembaca agar memelihara dan meningkatkan ketahanan sekolah
(e)    membujuk, mendorong, meyakinkan, dan mengajak pembaca agar memelihara dan meningkatkan keamanan, kesehatan, dan keselamatan para pekerja.

3.  Mengumpulkan Bahan Tulisan
          Bahan tulisan persuasi dapat dicari dan dikumpulkan melalui pengamatan dan penelitian.  Pengamatan dapat dilakukan dengan cara mengamati objek tulisan secara saksama.  Penelitian dapat dikerjakan dengan melakukan wawancara dengan orang-­orang yang dapat dipercaya.  Penelitian juga dapat dilakukan dengan studi kepustakaan atau membaca tulisan orang yang dapat dipercaya. Bila kita hendak menggarap dan mengembangkan tulisan persuasi dengan tema "Perlunya Kita Menghemat Energi", misalnya, pengumpulan bahan dapat dikerjakan melalui berbagai macam cara, seperti:
(a)       Mengamati penggunaan berbagai bentuk dan jenis energi oleh masyarakat luas
(b)      Mengamati besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya penggunaan energi oleh masyarakat luas
(c)       Mewawancarai pakar atau ahli atau orang yang dapat dipercaya dan mempunyai wewenang mengenai masalah energi dan penggunaannya
(d)      Membaca buku, maialah, surat kabar, buletin, dan bahan tulisan lain yang membicarakan maslaah penggunaan energi oleh masyarakat luas.
Melalui cara-cara demikian, kita dapat memperoleh dan mengumpulkan bahan-bahan tulisan seperti berikut ini.
(a)    bentuk dan jenis energi, misalnya bahan bakar minyak (BBM), gas alam cair, listrik, kayu bakar, arang, dan batu bara
(b)   besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya penggunaan energi oleh masyarakat luas, seperti mayoritas penduduk menggunakan minyak tanah untuk keperluan dapur, pemilik kendaraan bermotor yang menggunakan bensin dan solar, banyak peusahaan dan industri yang menggunakan listrik, banyak penduduk yang menggunakan listrik untuk penerangan rumah dan keperluan rumah tangga lainnya, pemerintah daerah yang inenggunakan listrik untuk penerangan jalan, inayoritas penduduk desa yang menggunakan kayu bakar dan arang untuk keperluan rumah tangga, dan masih banyak industri yang menggunakan batu bara
(c)    semakin susut dan menipisnya persediaan semua bentuk dan jenis energi tersebut karena penggunaannya yang semakin berlipat ganda, meluas, dan terus-menerus.
Semua bahan yang telah terkumpul Idan tentunya dicatat secara sistematis) harus dipertimbangkan dan dipilih.  Bahan-bahan tulisan yang tidak mempunyai kaitan dan hubungan dengan tema tulisan yang sedang kita kerjakan, sebaiknya dibuang atau dikesampingkan.  Hanya bahan-bahan tulisan yang terpilihlah yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan tulisan.

4. Menyiapkan Kerangka Tulisan
          Bahan-bahan yang telah terkumpul dan terpilih kemudian dikelompokkan.  Setelah
itu, barulah kita menyiapkan kerangka tutisan.  Dengan menggunakan bahan-bahan yang k,elaii terkumpul dan terpilih berkaitan de igan tema "Perlunya Kita Menghemat Energi" (seperti tampak pada langkah ketiga)

5. Mengembangkan Tulisan
          Dengan disiapkannya kerangka tulisan, pengembangan tulisan dapat mulai dikerjakan. Pikiran-pikiran yang telah disusun dan ditata di dalam kerangka tulisan harus dikembangkan dengan sistematis.  Seluruh pikiran utama maupun pikiran penjelas kemudian dikembangkan menjadi kalimat-kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas.
Dalam menulis persuasi yang perlu diperhatikan ialah adanya pembabakan tulisan dengan susunan, seperti pembuka atau pendahuluan (tampak pada kerangka alinea pertama), isi atau tubuh tulisan (tampak pada kerangka alinea kedua, alinea ketiga, dan alinea keempat), dan penutup (tampak pada kerangka atinea kelima).  Pada bagian penutup inilah kesimpulan atau ringkasan tulisan ditonjolkan dalam bentuk ajakan yang ditujukan kepada pembaca.
Berikut ini contoh pengembangan tulisan persuasi berdasarkan kerangka tulisan seperti yang telah disiapkan pada langkah keempat


Jika kita amati, banyak jenis energi yang digunakan oleh masyarakat luas, industri, dan transportasi.  Pertama, energi yang diberikkan oleh alam, seperti minyak tanah, solar, bensin, bensol, gas alam cair, dan batu bara.  Kedua, energi yang diusahakan oleh manusia seperti listrik.
Besar dan banyaknya energi yang digunakan oleh masyarakat luas itu bervariasi, seperti bahan bakar minyak yang digunakan oleh mayoritas penduduk.  Minyak tanah, umpamanya, digunakan oleh sebagian besar penduduk untuk memenuhi keperluan rumah tangganya.  Bensin dan solar digunakan oleh pemilik kendaraan.  Kayu bakar digunakan oleh ma5yorakat pedesaan, sedangkan masyarakat perkotaan menggunakan listrik untuk penerangan rumah don keperluan rumah tangga lainnya. jenis energi yang digunakan oleh industri dan transportasi juga bervariasi.  Banyak industri yang menggunakan energi batu bara dan listrik, sedangkan peru.sahaan transportasi, seperti kapal terbang, kapal laut, truk, bus, dan kereta api menggunakan bensol, bensin, solar, dan listrik.
Makin lama persediaan berbagai bentuk dan jenis energi semakin menyusut.  Penyusutan ini disebabkan oleh semakin banyaknya industri yang memerlukan banyak energi.  Kebutuhan masyarakat okan energi juga makin meningkat karena kegiatan masyarakat kian berkembang dan beraneka ragam.  Selain itu, jumlah kendaraan pun bertambah banyak dan memerlukan bahan bakar minyak.
Untuk menuniang kelangsungan hidup anak-cucu kita, mari kita menghemat energi, karena pada akhirnya energi akan habis jika kiao gunakan terus-menerus.  Sebaiknya, masyarakat pemakai energi tidak berlaku boros dalam menggunakan berbagai bentuk dan jenis energi.  Berbagai industri dan perusahaan pun sebaiknya juga melakukan efisiensi dalam menggunakan energi.


Setelah kerangka tulisan selesai kita kembangkan, berarti pemilihan dan penentuan judul tulisan pertu dikerjakan. Beberapa kemungkinan judul yang dapat kita pilih untuk tulisan persuasi yang membicarakan tema "Perlunya Kita Menghemat Energi" antara lain sebagai berikut.
*   Mari Menghemat Energi
*   Penggalakan Penghematan Energi
*   Sebaiknya Kita Menghemat Energi
*   Menghemat Energi, Apa Perlunya?
*   Menghemat Energi Sekarang Waktunya
*   Penghematan Energi Mendukung Pelaksanaan Pembangunan Nasional
*   Menghemat Energi Demi Anak dan Cucu Kita

C.      RANGKUMAN
1.    Persuasi ialah tulisan yang bertujuan meyakinkan pembaca agar melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh penulis pada saat sekarang maupun pada waktu yang akan datang.
2.    Persuasi memerlukan bukti-bukti dan fakta-fakta.
3.    Unsur terpenting persuasi ialah kepercayaan.
4.    Langkah-langkah menulis persuasi ialah: pertama, menentukan tema tulisan; kedua, menentukan tujuan tulisan; ketiga, mengumpulkan bahan tulisan; keempat, menyiapkan kerangka tulisan; kelima, mengembangkan tulisan.
5.    Bahan tulisan persuasi dapat diperoleh melalui pengamatan (dengan mengamafi objek tulisan) dan penelitian (dengan wawancara dan studi kepustakaan).
6.    Pembabakan tulisan persuasi meliputi bagian pembuka atau pendahuluan, bagian isi atau tubuh tulisan, dan bagian penutup yang berisi kesimpulan berupa ajakan.

IMBUHAN -ISASI

Penjodohan –isasi  untuk Sertifikat dan Elektrik


Penggunaan kata sertifikat dan elektrik tampaknya  telah mewarnai aneka wacana seputar persoalan pendidikan di tanah air.  Ketika kualitas pendidikan di tanah air dipersoalkan, lahirlah kata sertifikasi yang dipertalikan dengan para guru yang ditengarai sebagai sumber kemerosotan mutu pendidikan. Pemerintah dan semua pemangku kepentingan dunia pendidikan lalu mencari jurus pamungkas yang diandalkan mendongkrak kualitas pendidikan. Semua guru yang  mengajar dan mendidik harus menyakui sertifikat tenaga kependidikan. Proyek raksasa berskala nasional dengan dana raksa seakan-akan menghujani nusantara meski curahannya tidak merata. Kita mengenalnya sebagai Proyek “Sertifikasi Guru”. Guru yang dinilai laik mengajarkan siswa berdasarkan kriteria tertentu,  harus bersertifikat pendidik.  Tujuan tersamar, jangka panjang  adalah kualitas sumber daya manusia sedangkan target jangka pendek dan paling nyata adalah jaminan ekonomi karena sertifikat ibarat galah sakti untuk menjolok gepokan tunjangan sertifikasi.
Bentuk “sertifikasi” yang bertalian dengan bentuk “sertifikat” seperti yang ditemukan dalam tulisan ini memang amat berdamai dengan rasa bahasa (lidah yang mengucapkannya dan telinga yang menyimaknya) tetapi sesungguhnya bentuk sertifikasi ini menyelipkan masalah bahasa yang perlu diuraiakan untuk dipahami.  Sertifikat sebagai kata benda berarti tanda atau surat keterangan (pernyataan tertulis atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan atau suatu kejadian.  Sertifikat tanah misalnya berarti surat keterangan bukti pemilikan tanah. Sertifikasi pendidik atau guru berarti surat bukti pemilikan wewenang  menjalankan peran sebagai pendidik, guru.
Sebagian pembaca (terutama pegulat bahasa) memahami bahwa bentuk sertifikasi merupakan bentuk turunan dari bentuk dasar sertifikat. Bentuk sertifikasi terlahir dari aktivitas yang merujuk pada adanya proses untuk mendapatkan sertifikat. Karena itu, sertifikasi diartikan sebagai penyertifikatan. Bentuk penyertifikatan ini diturunkan dari bentuk dasar sertifikat melalui proses morfolologis pengimbuhan dengan unsur pe-/-an. Bentuk dasar mengalami penyengauan atau penazalan karena bentuk dasar  sertifikat diawali bunyi /s/.
Proses morfologis dengan imbuhan pe-(N)-an yang bermakna menyatakan proses dalam kaidah morfologis seperti ini parallel dengan penggunaan bentuk akhiran –isasi. Kata legal (sah) misalnya jika diimbuhi bentuk pe-(N)-an maka melahirkan kata legalisasi (pengesahan). Jika kaidah ini yang digunakan maka bentuk sertifikasi jelas menyalahi kaidah proses morfologis penggunaan akhiran –isasi. Seharusnya dari bentuk dasar sertifikat jika diimbuhi akhiran –isasi yang bermakna proses menurunkan bentuk sertifikatisasi. Bentuk sertifikatisasi paralel dengan bentuk penyertifikatan yang berarti proses, cara, perbuatan menyertifikatkan.
Jika bentuk sertfikasi ini  tetap digunakan sebagai bentuk yang benar maka kita akan berhadapan dengan bentuk-bentuk lain yang menganalgi pada bentuk itu. Sebagai contoh Harian Jawa Pos Senin, 2 September 2013 halaman 7 menurunkan artikel: Elektrifikasi Butuh 10 Tahun. Bentuk Elektrifikasi ini merujuk pada bentuk dasar elektrik. Karena maknanya merujuk pada proses, bentuk elektrik ini dapat diimbuhi pe-(N)-an menjadi pengelektrikan atau elektrikisasi.
Jadi, bentuk sertifikasi yang telah lama digunakan (salah kaprah?)  dan elektrifikasi serta bentuk lainnya yang mungkin akan muncul jelas menyalahi kaidah karena imbuhan serapan –isasi terkesan dipaksakan untuk dijodohkan pada bentuk sertifikat dan elektrik. Penjodohan yang dipaksakan dan terkesan hanya mempertimbangkan kemudahan pengucapan seperti ini jelas akan melahirkan disharmoni dan boleh jadi mengaccaukan. Kita menginginkan kehidupan yang harmonis dan cara berbahasa menjadi salah satu pilihan untuk kerharmonisan itu