Kamis, 08 Agustus 2013

IMBUHAN BAHASA INDONESIA

Awalan (prefiks)
Awalan adalah imbuhan yang diberikan di awal kata. 
Contoh : me-, ber- di-, ke-, pe-, ter-

Awalan me –
Pemakaian awalan me- bervariasi yaitu mem-, men-, meny-, meng-, dan menge-
Contoh :  melapor, membaca, menarik, menyanyi, menghitung, dan mengecat

Makna awalan me- :
1.      Melakukan perbuatan/tindakan. 
Contoh :    mengambil, menjual.
2.      Melakukan perbuatan dengan alat. 
Contoh  :  memotong, menyapu.
3.      Menjadi atau dalam keadaan. 
Contoh :    menurun, meluap.
4.      Membuat kesan. 
Contoh :    mengalah, membisu.
5.      Menuju ke. 
Contoh :    mendarat, menepi.
6.      Mencari. 
Contoh :    mendamar, merotan.

Awalan ber-
Pemakaian awalan ber- mempunyai kaidah sebagai berikut. 
1.      Apabila diikuti kata dasar yang berhuruf (r) dan beberapa kata dasar yang suku pertamanya berakhir huruf (er), bentuk awalan ber berubah menjadi be-.
Contoh :    ber +  rantai     à  berantai
                        ber + kerja       à  bekerja
2.      Apabila awalan ber- bertemu dengan kata dasar ajar, ber- berubah menjadi bel-
Contoh :    ber + ajar         à  belajar
3.      Apabila awalan ber- diikuti kata dasar selain yang disebutkan di atas, ber- tetap tanpa perubahan.
Contoh :    ber + lari          à  berlari
                  ber + nyanyi    à  bernyanyi

Makna awaln ber-
1.      Mempunyai. 
Contoh :    beranak, berhasil
2.      Memakai/menggunakan/mengendarai. 
Contoh :    bersepeda, bersepatu
3.      Mengeluarkan. 
Contoh :    berkata, bertelur

4.      Menyatakan sikap mental. 
Contoh :    berbahagia, berbaik hati.
5.      Menyatakan jumlah. 
Contoh :    berdua, berempat.

Awalan di-
Awalan di mempunyai makna suatu perbuatan aktif.  Awalan di- merupakan kebalikan dari awalan me- yang bermakna aktif.
Contoh :          di +  siram       à  disiram
                        di + tanam       à  ditanam
                        di + beli           à  dibeli

Awalan ter-
1.      Awalan ter- hampir sama dengan awalan di-.  Awaln ter- berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif.
Contoh :    ter +  tendang  à  tertendang
                                                                          i.      ter  +  bakar           à  terbakar
2.      Awalan ter- ada pula yang termasuk golongan kata sifat.
Contoh :    ter  +  pandai   à  terpandai
                                                                          i.      ter  +  kecil            à  terkecil
Makna awalan ter-
1.      Sudah di atau dapat di. 
Contoh :    tertutup, terbuka.
2.      Ketidaksengajaan. 
Contoh :    terbawa, terlihat.
3.      Tiba-tiba. 
Contoh :    teringat, terjatuh.
4.      Dapat atau kemungkinan. 
Contoh  :  ternilai, terbagus.
5.      Pelaing atau super. 
Contoh :    terpandai, tertua.


Awalan pe-(n)
Pemakaian awalan pe-(n) memiliki variasi sebagaimana yang berkalu pada awalan me-(n).

Makna awalan pe-(n) :
1.      Menyatakan yang melakukan perbuatan. 
Contoh :    penulis, pembaca.
2.      Menyatakan pekerjaan. 
Contoh :    perpanjang, perlebar.
3.      Menyatakan alat. 
Contoh :    penghapus, penggaris.
4.      Menyatakan memiliki sifat. 
Contoh :    pemaaf, pemalu.
5.      Menyatakan penyebab. 
Contoh :    pemanis, pemutih

Awalan pe-
Umumnya tidak bias digunakan secara mandiri.  Pemakaian awlan per- membutuhkan imbuhan lain misalnya –kan dan –an.
Contoh :          per-kan + kembang     à  perkembangan
                        per-an    +  usaha         à  perusahaan

Awalan se-
Makna awalan se-
1.      Menyatakan satu. 
Contoh  :  selembar, seribu.
2.      Menyatakan seluruh. 
Contoh  :  sekota, sedesa.
3.      Menyatakan sama. 
Contoh  :  sepandai, seindah.
4.      Menyatakan setelah. 
Contoh :    sekembali

Awalan ke-
Makna awalan ke-
1.      Menyatakan kumpulan yang terdiri dari jumlah. 
Contoh  :  kesebelasan.
2.      Menyatakan urutan. 
Contoh  :  kesatu, kedua, ketiga


Sisipan (infiks)
Sisipan adalah imbuhan yang diberikan di tengah kata. 
Contoh :  -el, -em, dan –er.

Makna sisipan :
1.      Menyatakan internsitas atau frekuensi.
Contoh :    geletar, gemetar
2.      Menyatakan banyak dan bermacam-macam.
Contoh :    temali, gemerincing
3.      Memiliki sifat yang disebut dalam kata dasarnya.
Contoh :    temurun, gemilang, telunjuk, pelatuk, gelembung, telapak


Akhiran (sufiks)
Imbuhan yang diberikan di akhir kata.
Contoh :  -kan, -I, -an, -kah, -tah, dan –pun.


Akhiran –kan
Makna akhiran –kan :
1.      Secara umum mengandung arti perintah.
Contoh :
      Dengarkan baik-baik !
2.      Menyatakan sebagai alat atau membuat dengan.
Contoh :   
      menusukkan pisau, melemparkan batu
3.      Menyebabkan atau menjadikan sesuatu.
Contoh :
      membesarkan, menjatuhkan
4.      Menyatakan arti bahwa suatu pekerjaan dilakukan untuk orang lain.
Contoh :
      meminjamkan, mengembalikan
5.      Mentransitifkan kata kerja ke dinding
Contoh :
      memantulkan

Akhiran -i
Makna akhiran –I :
1.      Mengandung arti membentuk kalimat perintah.
Contoh :
      Turuti perintahnya !
2.      Menyebabkan sesuatu jadi.
Contoh :
      menyakiti hati,  menghargai dia
3.      Menyarakan intensitas (pekerjaan yang berulang-ulang)
Contoh :
      menembaki, memukuli

Akhiran –an
Makna akhiran –an
1.      Menyatakan tempat.
Contoh :    pangkalan, kubangan
2.      Menyatakan alat.
Contoh :    ayunan, timbangan
3.      Menyatakan hal atau cara.
Contoh :    didikan, pimpinan
4.      Menyatakan akibat, hasil perbuatan.
Contoh :    hukuman, balasan
5.      Menyatakan sesuatu yang di.
Contoh :    catatan, suruhan
6.      Menyatakan seluruh, kumpulan.
Contoh :    lautan, sayuran
7.      Menyatakan menyerupai.
Contoh :    anak-anakan, kuda-kudaan
8.      Menyatakan tiap-tiap.
Contoh :    tahunan, mingguan
9.      Menyatakan mempunyai sifat.
Contoh :    asinan, manisan

Akhiran –isme dan –isasi
Merupakan jenis imbuhan serapan.

Makna akhiran –isme adalah  paham atau ajaran :
Contoh :          komunisme, animisme, liberalisme
Makna akhiran –isasi adalah proses atau menjadikan sesuatu.
Contoh            :          swastanisasi, lebelisasi

Akhiran – i , - iah,  - is, - wi
Merupakan jenis imbuhan serapan.
- i berasal dari bahasa Inggris.
- iah, - is, - wi berasal dari bahasa Arab
Makna akhiran – i, - iah, - is, - wi adalah membentuk kata sifat.
Contoh :          insani               : memiliki sifat keinsanian
                        alamiah            :  memiliki sifat alamiah, natural
                        agamais           :  menujukkan sifat orang yang taat beragama
                        manusiawi       :  bersifat kemanusiaa

Awalan dan Akhiran (konfiks)
Awalan dan akhiran adalah imbuhan yang berupa gabungan dari awalan dan akhiran.
Contoh :  me-kan, pe-an, ber-an, se-nya, meper-kan

Awalan dan Akhiran me-kan, dan memper-kan
Makna me-kan:
1.      Melakukan pekerjaan orang lain.
Contoh :    Adik memesankan ibu makanan.
2.      Menyebabkan atau membuat jadi.
Contoh  :   Lemparan bola itu memecahkan kaca jendela kamar.
3.      Melakukan perbuatan.
Contoh        :         Gajah menyemburkan air dari belalainya.
4.      Mengarahkan.
Contoh :    Ayah meminggirkan kendaraannya.
5.      Memasukkan.
Contoh        :         Polisi memenjarakan penjahat itu di tahanan POLDA.
Makna memper-kan :
1.      Menyebabkan atau membuat jadi :
Contoh  :   Rini mempertotonkan kebolehannya bermain biola.              

Awalan dan Akhiran ber - an
Makna :
1.      Menyatakan jumlah pelaku yang banyak.
Contoh  :  berdatangan, berterbangan
2.      Menyatakan perbuatan yang berulang-ulang
Contoh        :         bergulingan, berlompatan
3.      Menyatakan hubungan antara dua pihak.
Contoh  :   bersamaan, bersebelahan, berduaan.
4.      Menyatakan hubungan timbal balik.
Contoh        :         bersahutan, bersalaman

Awalan dan Akhiran pe – an
Makna :
1.      Menyatakan hal
Contoh  :   pendidikan, penanaman
2.      Menyatakan proses atau perbuatan.
Contoh  :   pendaftaran, penelitian.
3.      Menyatakan hasil.
Contoh        :         pengakuan, peghasilan
4.      Menyatakan tempat.
Contoh  :  penampungan, pemandian
5.      Menyatakan alat.
Contoh  :  penglihatan, pendengaran

Awalan dan Akhiran per- an
Makna :
1.      Menyatakan tempat.
Contoh  :   perhentian, perusahaan
2.      Menyatakan daerah.
Contoh  :  perempatan, pertigaan
3.      Menyatakan hasil perbuatan.
Contoh  :   pertahanan, perbuatan
4.      Menyatakan perihal.
Contoh  :   perbukuan, perkelahian
5.      Menyatakan banyak.
Contoh  :  persyaratan, persaudaraan

Awalan dan Akhiran se –nya
Makna :
  1. Menyatakan makna tingkatan yang paling tinggi yang dapat dicapai.
Contoh  :         sebagus-bagusnya, setinggi-tingginya
  1. Sering disertai dengan kata ulang.
Contoh  :         sebaik-baiknya, semerah-merahnya

TUNTUTAN KOHESI PARAGRAF

Paragraf adalah rangkaian kalimat yang secara bersama­sama menjelaskan suatu unit gagasan penulis. Kalimat­kalimat itu tidak lepas terpisah satu dengan yang lain, tetapi saling berhubungan dan tarik-menarik. Istilah yang tepat untuk mengungkapkan makna "tarik-menarik" ini adalah kohesi.
Kohesi sebenarnya istilah dalam IPA. Artinya, tarik­menarik antarmolekul yang sejenis. Misalnya, tarik-menarik molekul air dengan molekul air sehingga air tampak menyatu. Kohesi dalam paragraf adalah tarik-menarik antarkalimat dalam paragraf sehingga kalimat-kalimat itu tidak saling ber­tentangan, tetapi tampak menyatu dan bersama-sama men­dukung pokok pikiran paragraf. Paragraf yang demikian dapat disebut sebagai paragraf yang padu (kohesif).
Antara kalimat satu dengan kalimat lain yang membentuk sebuah paragraf harus berhubungan secara baik, terjalin erat, dan kompak. Kekompakan hubungan itu menyebabkan pem baca mudah mengetahui hubungan kalimat satu dengan kalimat lain. Paragraf yang demikian dinamakan paragraf yang serasi (koheren).
Kepaduan dan keserasian paragraf dapat terwujud bila terdapat kohesi antarkalimat. Untuk mewujudkan kohesi antarkalimat, keberadaan penanda kohesi sangat diperlukan. Penanda kohesi ibarat lem perekat atau magnet yang me­nyebabkan kalimat-kalimat dalam paragraf itu saling ber­hubungan dan bahkan saling menarik satu dengan yang lain. Penanda kohesi cukup banyak ragamnya, antara lain seperti di bawah ini.

1. Pengulangan atau Paralelisme
Kohesi dapat ditimbulkan melalui pengulangan kata atau frasa yang sama. Artinya, kata atau frasa tertentu dari sebuah kalimat dimunculkan lagi dalam kalimat berikutnya. Dengan cara sepeti itu kalimat pertama dan kalimat-kalimat berikutnya mempunyai hubungan yang nyata.
Contoh:
Seharusnya semua orang dapat berpidato. Sebab, semua orang mampu berbicara yang dapat dikembangkan menjadi terampilberpidato. Membuat diri agar terampil berpidato itu ternyata amat mudah. Caranya, mem­biasakan diriberpidato di depan teman-temannya atau di lingkungan terbatas. Makin sering berpidato, makin terampil. Bahkan pada waktunya kelak bukan hanya terampil, melainkan akan menjadi mahirberpidato.

2. Penggunaan Kata Ganti atau Pronomina
Kata ganti sangat efektif untuk menandai pertalian antar­kalimat dalam paragraf atau wacana. Yang termasuk di dalam­nya adalah kata ganti orang/pronomina dan kata ganti tunjuk. Jika kata ganti diletakkan setelah kata yang digantikan, disebut hubungan anaforis. Jika kata ganti mendahului kata yang digantikan disebut hubungan kataforis.
Contoh:
(1)  Anton membeli seekor kuda jantan. Ia me­nungganginya berkeliling kampung hampir setiap sore.
(2)  Dengan menunggangi kuda jantannya, Anton berkeliling kampung hampir setiap hari.
(3) Tadi pagi Andre mencubit Putri. Ia tampak marah-marah.
Pemakaian kata ganti ia pada kalimat (1) merupakan penanda kohesi anaforis karena mengacu pada kata Anton yang sudah disebutkan sebelumnya. Sementara itu, -nya pada contoh (2) merupakan penanda kohesi kataforis. Contoh (3) tidak kohesif karena kata ganti ia membingungkan pem­baca. Siapa sebenarnya yang marah-marah? Andre atau Putri?

3. Penggunaan Penanda Koreferensi
Penanda kohesi sering menggunakan kata yang maknanya berbeda dengan kata yang diacunya. Akan tetapi, kedua kata itu mengacu pada referen yang sama atau menunjuk pada sesuatu yang sama.
Contoh:
Sejak pagi Pak Slamet melayani pembeli dengan ramah. Pedagang yang sabar dan ulet itu baru beristirahat men­jelang matahari tenggelam

4. Persesuaian Alami
Kadang-kadang dalam sebuah paragraf kita temukan kata yang memiliki hubungan persesuaian alami. Walaupun hedua kata berbeda maknanya, mereka merujuk pada satu kumpulan yang sama.
Contoh:
Ayah mempunyai kebun salak pondoh satu setengah hektare. Paman memiliki dua hektare.

5. Hubungan Metafora
Hubungan metafora mirip dengan hubungan koreferensi. Kedua kata atau frasa dalam paragraf mempunyai bentuk dan arti yang berbeda, tetapi ada semacam pertalian makna kias dan makna lugas.
Contoh:
Tidak mengherankan jika Ulfah sekarang tumbuh menjadi gadis cantik. Dahulu ibunya memang bunga desa yang menjadi incaran para pemuda.

6. Penggunaan Konjungsi
Konjungsi disebut juga kata perangkai, kata sambung, kata penghubung, atau kata tugas. Ia memang mempunyai tugas merangkaikan, menyambung, atau menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, kalimat dengan kalimat, atau paragraf dengan paragraf. Konjungsi merupakan penanda kohesi yang amat sering digunakan. Beberapa contohnya ditampilkan di bawah ini.
a. Konjungsi sebab, sebab itu, oleh sebab itu, karena itu, oleh karena itu, maka, maka itu, akibatnya untuk me­nandai hubungan sebab-akibat atau akibat-sebab. Contoh:
(a)    Upaya memirip-miripkan cerita di atas panggung dengan kejadian di masyarakat tentu saja tidak asal dilakukan. Sebab, drama adalah karya seni yang selalu mempertimbangkan faktor keindahan.
(b)    Sejak beberapa tahun terakhir ini pihak yayasan mengalami kesulitan mencari dana. Sebab itu, mulai tahun ini biaya operasional pendidikan dibebankan kepada orang tua siswa.
(c)    Kita memerlukan biaya dan tenaga yang amat banyak untuk membangun jalan tembus. Oleh karena itu, kita barns bekerja sama dengan berbagai pihak.
b. Konjungsi tetapi, akan tetapi, namun, walaupun, sebalik­nya digunakan untuk menandai hubungan pertentangan/ kontras. Contoh:
(a)    Persediaan beras dan bahan makanan lain sudah me­limpah ruah di pasaran sejak seminggu yang lalu. Akan tetapi, harganya masih belum turun.
(b)    Kepala desa kami mewajibkan semua warganya untuk mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan pada ban Minggu pagi yang akan datang. Namun, bagi warga yang mempunyai keperluan penting, diizinkan tidak mengikuti kerja bakti.
(c)    Pada musim hujan, warga desa di daerah itu sering kebanjiran.Sebaliknya, pada musim kemarau mereka sulit mendapatkan air bersih.
c. Konjungsi malahan dan bahkan digunakan untuk me­nandai hubungan pengutamaan. Contoh:
(a)    Karena usahanya berhasil, Pak Wiryo membangun beberapa tempat ibadah di daerahnya. Malahan dia akan mengaspal jalan di desanya.
(b)    Mereka sangat berminat menyaksikan pertandingan tinju itu. Bahkan banyak di antara mereka sudah datang sebelum loket penjualan tiket dibuka.
(c)    Banyak pengungsi menderita sakit di penampungan sementara. Bahkan dua orang dinyatakan kritis dan barns dilarikan ke rumah sakit.
d. Konjungsi penanda hubungan waktu, antara lain dahulu, sekarang, kini, kelak, sebelum, setelah, sesudah, kemudian, sementara itu, sehari kemudian, sebulan yang lalu, tahun depan digunakan untuk menandai hubungan waktu. Contoh:
(a)    Minggu pertama tinggal di asrama, mereka masih tampak canggung menyapu, mengepel, merapikan kamar, dan mencuci serta menyetrika pakaian. Sebulan kemudian, mereka sudah terampil mengurus kebutuhan diri sendiri.
(b)    Entah apa sebabnya, basil bumi di daerah ini kurang baik sejak tiga tahun yang lalu. Dulu tanah di sini subur sekali sehingga basil bumi melimpah.
(c)    Mereka makan bersama-sama di bawah pepohonan yang rindang. Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju pos kedua.
       e. Konjungsi paling ... , se... nya, ter ... digunakan untuk menandai hubungan klimaks. Contoh:
(a)    Angin puyuh merusak kebun tebu berhektare-hektare di Kabupaten Kediri. Yang paling parah di Kecamatan Ngadiluwih.
(b)    Karena terbatasnya lapangan pekerjaan, banyak warga desa mencari nafkah ke tempatyang amatjauh. Sejauh jauhnya pergi, mereka pasti mempunyai rencana kembali ke kampung halamannya.
(c)    Ada beberapa jalan yang dapat ditempuh menuju puncak Gunung Tidar. Paling dekat, jalan dari sebelah utara, dekat pasar burung.
f. Konjungsi seperti, ibarat, sama, bak digunakan untuk menandai hubungan perbandingan. Contoh:
(a)    Perusahaan yang dipimpinnya menghadapi beberapa masalah, makin lama makin banyak. Seperti bola sa ju yang menggelinding, makin lama makin besar.
(b)    Makin banyak pengalaman, pengetahuan, dan ilmu yang dikuasai, biasanya orang semakin rendah hati. Ibarat padi, makin berisi makin merunduk
(c)    Dia berada dalam posisi yang amat sulit untuk menentukan sebuah keputusan. Bak buah simalakama yang bila dimakan ayahnya mati, bila tidak dimakan ibunya yang mati.
g. Konjungsi di sana, di sini, di situ, sebelah, dekat, jauh digunakan untuk menandai hubungan tempat/jarak. Contoh:
(a)    Di Jakarta kita tak dapat menyeberangi jalan di sembarang tempat. Di sini dengan mudahnya kita melenggang menyeberangi jalan.
(b)    Halaman depan gedung serba guna berupa taman yang indah. Sebelah kirinya berupa kebun buah­buahan yang cukup luas.
(c)    Pabrik pengolahan marmer dibangun di tempat yang sepi, yaitu di lereng Gunung Menoreh.Jauh dari ke­ramaian Kota Magelang.

h. Konjungsi umpama, contoh, misalnya digunakan untuk menandai hubungan ilustrasi. Contoh:
(a)    Memasuki usia remaja, Anita tampak semakin cantik. Umpama bunga, dia sedang mekar menyebarkan aroma wangi yang mengundang banyak serangga.
(b)    Induk binatang selalu melindungi anak-anaknya yang masih kecil dari bahaya yang mengancam. Contoh, induk ayam memanggil-manggil anaknya agar bersembunyi di bawah sayapnya saat ia melihat burung elang melayang-layang mencari mangsa.
(c)    Kita hat-us melakukan berbagai usaha untuk meng­antisipasi datangnya musim hujan yang hampirselalu mengakibatkan banjir di daerah ini. Umpamanya, kita bergotong royong mengeruk dasar saluran air.
       i. Konjungsi ringkasnya, kesimpulannya, intinya, garis besar­nya digunakan untuk menandai hubungan kesimpulan. Contoh:
(a)    Sebagian warga.turun ke sungai mengambil batu, sebagian meratakan tanah, dan sebagian lagi memecah batu dan menata di atas tanah yang sudah diratakan. Ringkasnya, semua warga sibuk membangun jalan.
(b)    Harga sayur-mayur di pasar sudah merambat naik, betas naik, minyak goreng juga naik, demikian pula terigu.Kesimpulannya, harga bahan makanan naik.
(c)    Lantai rumah harus dipel atciu minimal disapu sehari sekali, perabot rumah tangga seperti kursi harus dilap dengan kain lap minimal dua hari sekali, dan pakaian kotor barns segera dicuci.Intinya, kita harus berperilaku bersih.
j. Konjungsi jika, kalau, jikalau, andaikata, seandainya digunakan untuk menandai hubungan syarat atau pengandaian. Contoh:
(a)    Minggu depan kawan-kawan sekelasku akan berkemah di Sekar Langit selama dua hari.Jika diizinkan oleh ayah dan ibu, saya akan ikut.
(b)    Sawah-sawah sudah kering, tanaman banyak yang mati, dan penduduk kesulitan mencari air bersih. Kalau hujan tidak segera turun, masyarakatsemakin menderita.
(c)    Ketika rombongan kami tiba, pesta baru saja usai. Seandainya kendaraan yang kami tumpangi tidak mogok, kami tentu tidak terlambat.

PENOPANG PARAGRAF

Paragraf adalah sekelompok kalimat yang saling ber­hubungan dan bersama-sama menjelaskan satu unit pokok pikiran. Penulis merakit paragraf demi paragraf untuk menyampaikan keseluruhan pokok pikirannya kepada pembaca. Agar pembaca dapat menerima keseluruhan pokok pikiran dengan mudah, penulis harus menyusun paragraf-paragraf itu secara sistematis dan logis.
Untuk merakit paragraf yang sistematis dan logis, diperlu­kan sejumlah unsur pendukung, yaitu transisi, kalimat topik, kalimat penjelas, dan kalimat penegas. Memang tidak semua paragraf mengandung keempat unsur itu. Adakalanya sebuah paragraf mengandung empat unsur, tiga unsur, atau dua unsur saja. Bahkan, adakalanya hanya mengandung satu unsur.

A. Kalimat Utama
Sebuah paragraf yang baik mengandung satu pokok pikiran. Pokok pikiran itu dituangkan dalam salah satu kalimat di antara kalimat-kalimat yang tergabung dalam sebuah paragraf. Kalimat yang mengandung pokok pikiran paragraf disebut kalimat utama atau kalimat topik.
Misalnya, pokok pikiran yang akan disampaikan penulis "taman itu bagus". Pokok pikiran itu dituangkan dalam sebuah kalimat. Tentu saja kalimat yang mengandung pokok pikiran itu boleh bervariasi. Contoh kemungkinan kalimat yang akan muncul sebagai berikut.
  1. Banyak orang mengakui bahwa taman itu termasuk taman yang bagus.
  2. Taman kecil di depan rumahnya amat bagus.
c.       Sejak dulu sampai sekarang taman itu tetap bagus.
  1. Bila dibandingkan dengan taman-taman yang ada di sekitarnya, taman itu tetap yang paling bagus.
e.       "Itu taman yang amat bagus, " kata salah seorang tamu yang sempat memperhatikannya.
f.        Memang, taman seperti itulah yang dapat dikatakan sebagai taman yang bagus.

Meskipun kalimat-kalimat dalam contoh di atas bervariasi, pokok pikirannya sama, yaitu "taman itu bagus". Karena itu, semua variasi kalimat itu dapat dikatakan sebagai kalimat utama. Isi kalimat utama masih bersifat umum karena belum mengungkapkan pokok pikiran penulis secara rinci. Bagi pembaca, kalimat utama belum m beri informasi yang lengkap. Karena itu, dalam sebuah paragraf, selain terdapat kalimat utama, juga terdapat kalimat-kalimat penjelas.
Sebagai contoh, kita ambil salah satu variasi kalimat di atas, yaitu Banyak orang mengakui bahwa taman itu ter­masuk taman yang bagus. Kalimat ini merupakan kalimat utama karena masih mengandung pernyataan umum. Agar lebih jelas, perlu dilengkapi dengan kalimat-kalimat penjelas yang jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Setelah kalimat itu dilengkapi kalimat-kalimat penjelas, akan menjadi sebuah paragraf seperti di bawah ini.
Banyak orang mengakui bahwa taman itu termasuk taman yang bagus. Pengakuan itu ada benarnya karena dilihat sekilas saja taman itu tampak rapi. Rumput-rumput liar dan sampah tak tampak. Yang ada hanyalah rumput hijau segar yang tumbuh merata. Tanaman bias diatur selang-seling besar kecilnya dari jenis jenis pilihan yang serasi. Bunga-bunga aneka warna bermekaran di berbagai sudut taman.
Dari contoh di atas dapat kita ketahui bahwa kalimat utama (kalimat pertama) dikembangkan oleh kalimat-kalimat penjelas, yaitu kalimat kedua sampai kalimat keenam. Kalimat kalimat penjelas itu merinci atau memberi alasan mengapa taman itu termasuk taman yang baik. Dengan demikian, informasi yang diterima pembaca menjadi lengkap karena secara nalar dapat diterima bahwa taman yang diceritakan itu termasuk taman yang bagus.

B. Kalimat Penjelas
Pembicaraan kalimat penjelas tidak dapat dipisahkan dengan kalimat utama. Dinamakan kalimat penjelas karena ada kalimat utama. Sebaliknya, dinamakan kalimat utama karena ada kalimat penjelas. Meskipun demikian, keduanya mempunyai perbedaan yang nyata.
Kalimat utama berisi pokok pikiran. Pokok pikiran itu dituangan dalam pernyataan umum. Sebaliknya, kalimat pen­jelas berisi pikiran penjelas yang diwujudkan dalam kalimat kalimat yang isinya menjelaskan, merinci, membandingkan, atau memberi contoh secara khusus.
Misalnya, ide pokok berbunyi "makhluk hidup memerlu­kan air". Ide pokok itu dituangkan dalam sebuah kalimat utama, misalnya, Agaknya kita tidak akan ragu-ragu me­ngatakan bahwa setiap makhluk hidup memerlukan air. Kemudian, agar lebih jelas bagi pembaca, kalimat utama itu ditambahi kalimat-kalimat penjelas yang berupa contoh se­hingga paragrafnya menjadi seperti di bawah ini.
Agaknya kita tidak akan ragu-ragu mengatakan bahwa setiap makhluk hidup memerlukan air. Misalnya, tumbuh­tumbuhan di sekitar rumah kita. Pada musim kemarau panjang, tumbuh-tumbuhan, terutama yang kecil mati kekeringan. Tumbuh-tumbuhan besar pun akan mati kalau tidak mendapatkan air dalam waktu yang amat lama. Demikian pula binatang piaraan kita, selain memerlukan makanan juga memerlukan air minum. Kebutuhan air itu lebih banyak lagi bagi manusia. Selain membutuhkan air untuk mandi, mencuci pakaian, dan memasak makanary kita membutuhkan air untuk minum. Kita akan merasa sangat haus bila sehari saja tidak minum. Yang pasti, kita tentu tidak akan tahan bila beberapa bar! tidak minum.

C. Transisi
Sebuah tulisan/karangan tidak hanya terdiri atas satu paragraf. Ada puluhan bahkan ratusan paragraf. Paragraf-paragraf itu tidak berdiri sendiri, tetapi harus berhubungan satu dengan yang lain. Nah, untuk menghubungkan paragraf satu dengan paragraf lainnya itu diperlukan "perekat" yang dinamakan transisi.
Contoh:
Dalam mewujudkan sebuah baju yang indah, penjahit membuat pola, memotong kain, dan kadang-kadang me­madukan kain satu dengan kain lainnya, lalu menjahitnya. Dalam mengolah bahan baku berupa kain itu, penjahit membayangkan siapa yang akan memakai baju yang akan dijahitnya itu. Penjahit berharap agar pemakcti baju itu merasa senang dan puas.
Seperti menjahit baju, pengarang atau sastrawan juga mengolah bahan baku untuk menghasilkan karya sastra. Jika bahan baku baju berupa kain, bahan baku karya sastra adalah bahasa. Sastrawan mengolah bahasa agar menjadi indah dan bernilai s.eni. Sebab, keindahan itulah yang menyebabkan karya sastra disebut karya seni, yaitu seni sastra.
Cara sastrawan menggunakan bahasa untuk menulis karya sastra berbeda dengan cara penulis lain untuk meng­hasilkan karya ilmiah. Penulis karya ilmiah bertujuan me nyampaikan gagasan kepada pembaca. Karena itu, kata­kata yang dipilih dan rakitan kalimatnya dibuat sedemikian rupa agarpembaca kRrya ilmiah cepat menangkap dan me­mahami gagasan penulis. Lain halnya dengan sastrawan. Sastrawan menulis bukan hanya untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca, melainkan juga menyampaikan perasaannya. Apa yang sedang dirasakan sastrawan di­sampaikan dengan kalimat-kalimat tertentu agar dapat dirasakan pula oleh pembaca.
Ringkasnya, sastrawan perlu menggunakan bahasa yang berbeda dengan yang Zazim. Sastrawan perlu "menggayakan " kalimat agar pembaca tersentuh perasaannya. Kalimat­kalimat yang disusun secara khusus untuk membangkitkan perasaan pembaca itu dinamakan gaya bahasa. Jadi, sastrawan perlu menggunakaj gaya bahasa.

Transisi digunakan untuk "merekatkan" atau meng­hubungkan paragraf satu dengan paragraf lain sehingga hubungan itu terasa logis. Akan tetapi, tidak semua paragraf mengandung transisi. Ada sejumlah paragraf yang tidak perlu menggunakan transisi karena tanpa transisi pun hubung­annya sudah terasa logis. Jadi, transisi digunakan kalau di­perlukan.
Dari contoh di atas, hubungan paragraf pertama dan paragraf kedua dinyatakan secara eksplisit dengan transisi seperti. Transisi seperti digunakan untuk menandai hubungan perbandingan.
Hubungan paragraf kedua dan ketiga dinyatakan secara implisit, yaitu tidak menggunakan transisi. Meskipun tanpa transisi, alur pikiran dari paragraf kedua ke paragraf ketiga sudah logis. Pembaca sudah merasakan dan memahami hubungan paragraf kedua dan ketiga, yaitu paragraf ketiga menjelaskan bagian tertentu dari paragraf kedua.
Selanjutnya, paragraf ketiga dan keempat dihubungkan dengan transisi ringkasnya. Kehadiran transisi ringkasnya memang sangat diperlukan pada awal paragraf keempat untuk menyambungkannya dengan paragraf ketiga. Sebab, yang ditegaskan dalam paragraf keempat merupakan kesimpulan dari penjelasan yang terdapat dalam paragraf ketiga.
Kehadiran transisi ternyata bukan hanya dalam paragraf, melainkan dapat juga dalam kalimat, antarparagraf, antar­subbab, dan antarbab. Dalam kalimat, transisi berfungsi untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat. Bila terdapat antar­subbab, transisi berfungsi untuk menghubungkan ide pokok
antarsubbab tersebut. Selanjutnya, transisi berfungsi sebagai jembatan penghubung ide pokok dalam bab yang berdekatan kalau terdapat pada antarbab.
Wujud transisi berupa kata (kelompok kata), kalimat, atau paragraf pendek. Transisi yang berupa paragraf pendek biasa­nya terdapat antarsubbab atau antarbab.

1.Transisi Berupa Kata (Kelompok Kata)
Transisi berupa kata atau kelompok kata amat banyak. Pengelompokan berdasarkan penanda hubungannya antara lain seperti di bawah ini.
a.       Penanda hubungan kelanjutan, antara lain dan, septa, lagi, lagi pula, tambahan lagi, bahkan, kedua, ketiga, selanjut­nya, akhirnya, terakhir.
  1. Hubungan waktu, antara lain dahulu, sekarang, kini, kelak, sebelum, setelah, sesudah, sementara itu, sehari kemudian, tahun depan.
c.       Penanda klimaks, antara lain paling..., se... nya, ter.. . .
d.      Penanda perbandingan, antara lain seperti, ibarat, sama, bak.
  1. Penanda kontras, antara lain tetapi, biarpun, walaupun, sebaliknya.
  2. Penanda urutan jarak, antara lain di sana, di sini, di situ, sebelah, dekat, jauh.
  3. Penanda ilustrasi, antara lain umpama, contoh, misalnya.
  4. Penanda sebab-akibat, antara lain sebab, oleh sebab itu, oleh karena, akibatnya.
  5. Penanda syarat (pengandaian), antara lain jika, kalau, jikalau, andaikata, seandainya.
  6. Penanda kesimpulan, antara lain ringkasnya, kesimpul­annya, garis besarnya, rangkuman.

2. Transisi Berupa Kalimat
Kalimat yang digunakan sebagai transisi dikenal pula dengan istilah kalimat penuntun. Kalimat penuntun mem­punyai fungsi ganda, yaitu sebagai tra            isi dan sebagai peng­
antar topik yang akan dijelaskan. Wontohnya seperti di bawah ini.
Ringkasnya, morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk kata. Yang di­bicarakan dalam morfologi adalah perubahan perubahan bentuk kata, baik dengan afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Peru bahan bentuk kata membawa akibat adanya perubahan arti kata. Pembicaraan mengenai perubahan arti kata sebagai akibat perubahan bentuk kata ini juga masuk wilayah morfologi. Bahkan morfologi juga membicarakan perubahan jenis kata sebagai akibat dari perubahan bentuk kata.

3. Transisi Berupa Paragraf
Adakalanya transisi berupa paragraf pendek. Transisi ini digunakan untuk "membelokkan" pembahasan dari suatu pokok pikiran ke pokok pikiran yang lain. Contohnya seperti di bawah ini.
Demikian penjelasan ringkas mengenai pentingnya pembuka pidato. Sebelum kita lanjutkan pembicaraan mengenai berbagai cara membuka pidato yang menarik, yang memikat, dan memesona, terlebih dahulu kita bicara­kan intonasi. Pembicaraan tentang intonasi perlu kita dahulukan karena berbagai cara membuka pidato itu hampir tidak ada manfaatnya kalau tidak disertai intonasi yang baik.
Intonasi adalah...

Paragraf di atas berfungsi menjembatani paragraf sebelum­nya yang berisi penjelasan mengenai pentingnya pembuka pidato dan paragraf selanjutnya yang berisi penjelasan mengenai pentingnya intonasi yang baik. Karena ide pokok kedua paragraf yang dihubungkan itu berlainan, dapat dikatakan bahwa transisi yang berupa paragraf itu "membelokkan" jalan pikiran pembaca dari suatu ide ke ide yang lain.


D. Kalimat Penegas
Kehadiran kalimat penegas dalam suatu paragraf tidak mutlak. Artinya, boleh ada boleh tidak. Bila pen merasa perlu menggunakan kalimat penegas untuk memperjelas informasi atau menyimpulkan kalimat-kalimat yang mendahuluinya, kalimat penegas ditulis. Bila informasi yang disampaikan itu sudah cukup jelas atau tanpa kalimat penegas kejelasan informasi itu tidak terganggu, kalimat penjelas tidak diperlu­kan. Namun, kadang-kadang kalimat penegas ditulis bukan untuk memperjelas informasi atau untuk menyimpulkan, melainkan hanya untuk variasi paragraf.
Contoh:
Gedung yang dibangun delapan belas tahun yang lalu itu kini keadaannya rusak berat. Tembok bagian depan mengelupas di beberapa tempat dan bagian belakang retak retak. Gentingnya banyak yang pecah dan tentu saja bocor kalau hujan turun. Kayu penyangga genting banyak yang patah sehingga atap bangunan tampak bergelombang. Plafon sudah tidak utuh, lantai hancur, dan beberapa jendela kaca pecah. Bahkan sejumlah pintunya keropos dimakan rayap. Gedung itu memang sudah tidak layak dihuni.

Unsur-unsur paragraf yang berupa transisi, kalimat utama, kalimat penjelas, dan kalimat penegas, tidak selalu ada dalam sebuah paragraf. Sebuah paragraf sering memiliki empat unsur, tiga unsur, dua unsur, atau hanya satu unsur. Contoh­contohnya seperti di bawah ini.

l. Paragraf di bawah ini mengandung empat unsur, yaitu transisi, kalimat utama, kalimat penjelas, dan kalimat penegas.
Lagi pula, di asrama ini kita harus menjaga kebersihan. Kamar mandi kita bersihkan sedikitnya dua hari sekali. Halaman kita sapu bergiliran setiappagi dan sore. Salur­an airpembuangan kita kontrol setiap minggu. Demikian pula sampah harus kita perhatikan. Jangan sampai kita membuang sampah sembarangan. Semua sampah, baik sampah besarmaupun kecil, kita buang di tempatsampah. Bila sudah terkumpul, kita bakar di tempatpembakaran sampah atau kita buang ke tempat pembuangan akhir. Bila perilaku hidup bersih itu kita lakukan, hidup kita di asrama menjadi nyaman dan sehat.

2. Paragraf di bawah ini mengandung tiga unsur, yaitu transisi, kalimat utama, dan kalimat penjelas.
Sebagai contoh, semua kendaraan bermotor memerlukan bahan bakar. Lokomotif kereta api memerlukan solar agar kuat menarik rangkaian gerbong. Mobil dan sepeda mo­tor "minum" bensin untuk melaju di jalan raya. Agar dapat menyeberangi lautan, kapal api harus diberi solar yang amat banyak. Demikian pula kapal terbang. Agar dapat mengudara ia harus dibekali bensol.

3. Paragraf di bawah ini mengandung tiga unsur, yaitu kalimat utama, kalimat penjelas, dan kalimat penegas.
Pak Wira makin sibuk. Kambing-kambingnya yang harus dicarikan rumput kini bertambah menjadi sepuluh ekor. Ayam dan itiknya tetap minta jatah makanan dan minum­an. Sementara itu, tanaman palawija di sawahnya tak mau ditelantarkannya. Apalagi dalam musim kemarau seperti sekarang ini, Pak Wira harus sering ke sawah. Pekerjaan Pak Wira memang semakin berat.

       4. Paragraf di bawah ini mengandung dua unsur, yaitu kalimat utama dan kalimat penjelas.
Dia cukuppandai disekolahnya. Dalam ulangan umum akhirsemester ini, dia dapat menjawab betul empat puluh soal dari lima puluh soalMatematika yang diujikan. Hasil ulangan Kimia tidak mengecewakan karena dia menempati urutan ketiga terbaik di kelasnya. Yang agak mengecewakan adalah basil ulangan Geografi, Dia hanya memperoleh nilai enam. Tetapi, rasa kecewa itu segera terobati karena dalam ulangan mata pelajaran Fisika dia mendapat nilai sembilan.

5. Paragraf di bawah ini hanya mengandung satu unsur, yaitu kalimat-kalimat penjelas.
Mendung Bergayut, makin lama makin tebal. Warnanya hitam pekat. Angin berembus kencang menggoyang pepohonan dan merontokkan dedaunan. Sementara itu, petir menyambar memenuhi angkasa. Geledek pun bergemuruh memekakkan telinga. Tak lama kemudian, hujan turun bagai dicurahkan dari langit bersamaan dengan tiupan angin kencang.

ARTI DAN FUNGSI PARAGRAF

1. Paragraf itu Apa?
Ketika membaca sebuah tulisan (artikel, makalah, atau buku), kita melihat kenyataan bahwa tulisan-tulisan itu terbagi dalam kelompok-kelompok kalimat. Tiap kelompok kalimat itu ditandai dengan baris baru yang ditulis agak menjorok ke dalam sekitar empat atau lima karakter. Bila kita amati lebih teliti, ternyata kalimat-kalimat yang tergabung dalam sebuah kelompok itu saling berhubungan dan bersama­-sama menjelaskan satu unit buah pikiran yang sejalan dengan buah pikiran seluruh tulisan. Kelompok kalimat seperti itu dinamakan paragraf. Agar lebih jelas, kita perhatikan contoh di bawah ini.
Sebelum mengenal kegiatan baca tulis, manusia sebenar­nya sudah berbahasa. Bahasanya tentu bahasa lisan, yaitu bahasa yang diucapkan dengan mulut. Segala peristiwa penting pada waktu itu hanya dicatat dalam ingatan. Orang tua biasanya menjadi arsip hidup, karena menjadi “pusat penyimpanan” peristiwa-peristiwa penting masa lalu. Kejadian-kejadian penting diteruskan orang tua kepada anak, dari anak kepada cucu, dan seterusnya. Tentu saja tidak semuanya dapat diteruskan karena kemampuan manusia untuk mengingat-ing angat terbatas. Menyadari keterbatasan itu, manusia berusaha mengabadikan peristiwa peristiwa penting itu dengan huruf-huruf dan tanda baca. Pemakaian huruf dan tanda baca itu dinamakan ejaan.
Ejaan adalah kaidah atau peraturan penulisan bahasa. Peraturan itu barns dipatuhi oleh pemakai bahasa agar kelancaran komunikasi tertulis tercapai. Sebaliknya, bila kaidah ejaan itu tidak dipatuhi, kelancaran komunikasi akan terganggu dan bahkan bisa macet. Hal ini dapat di­bandingkan dengan peraturan lalu lintas. Kelancaran lalu lintas dapat terwujud kalau pemakai jalan mematuhi rambu­rambu. Sebaliknya, lalu lintas menjadi kacau-balau dan bahkan bisa macet total kalau para sopir berlaku seenaknya dengan melanggar rambu-rambu lalu lintas.
Ketidakpatuhan terhadap ejaan merupakan pelanggaran. Pelanggaran berarti penyimpangan, dan setiap penyimpang­an berarti kesalahan. Selanjutnya, tulisan yang dihasilkan melalui pelanggaran kaidah ejaan, tentu saja termasuk tulisan yang salah. Agarpemakai bahasa dapat menghindar­kan diri dari kesalahan itu, ia harus mengetahui ejaan dan terampil menggunakannya.

Wacana di atas terdiri atas tiga paragraf. Tiap-tiap paragraf terdiri atas beberapa kalimat yang saling berhubungan dan saling mendukung unit buah pikiran. Paragraf pertama menjelaskan alasan mengapa orang perlu menciptakan ejaan. Paragraf kedua memberitahukan ejaan berupa seperangkat peraturan untuk menuliskan bahasa. Paragraf ketiga meng­anjurkan kepada pemakai bahasa untuk mengetahui dan mematuhi peraturan ejaan. Ketiga paragraf itu sama-sama mendukung buah pikiran yang lebih besar, yaitu tentang ejaan. Dari penjelasan dan contoh di atas dapat disimpulkan bahwa paragraf adalah sekelompok kalimat yang saling berhubungan dan bersama-sama menjelaskan satu unit buah pikiran untuk mendukung buah pikiran yang lebih besar, yaitu buah pikiran yang diungkapkan dalam seluruh tulisan.

2. Fungsi Paragraf
Keseluruhan tulisan (karangan) terdiri atas bagian-bagian dan tiap-tiap bagian itu terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Hal ini dapat dibandingkan dengan sebuah pohon. Pohon mempunyai bagian yang lebih kecil, yaitu beberapa dahan. Tiap-tiap dahan mempunyai beberapa cabang. Selanjutnya, tiap-tiap cabang mempunyai beberapa ranting dan tiap-tiap ranting mempunyai sejumlah daun. Demikian pula tulisan yang berupa buku, misalnya terdiri dari beberapa bab, tiap­tiap bab terdiri dari beberapa anak bab. Selanjutnya, tiap­tiap anak bab terdiri atas paragraf-paragraf. Paragraf terdiri atas beberapa kalimat yang saling berhubungan. Bila diurut­kan dari unsur yang paling kecil, beberapa kalimat mem­bentuk paragraf, beberapa paragraf membentuk anak bab. Selanjutnya, beberapa anak bab membentuk bab dan akhir­nya beberapa bab membentuk sebuah tulisan yang utuh (buku).
Secara fisik, sebuah paragraf mudah dikenali, yaitu selalu dimulai dengan baris baru dan kalimat pertamanya ditulis agak menjorok ke dalam. Ini adalah penulisan paragraf yang lazim. Namun, kadang-kadang, selain awal kalimat baru ditulis agak menjorok ke dalam, antara paragraf satu dan paragraf lainnya spasinya ditambah setengah sehingga menjadi satu setengah spasi. Selain itu, ada cara lain lagi, yaitu awal kalimat pertama tidak ditulis menjorok ke dalam, tetapi dipisahkan dengan dua spasi dari paragraf sebelumnya.
Hal itu merupakan ciri fisik paragraf yang langsung dapat diketahui dengan cara hanya memandang sekilas. Namun bila diamati lebih saksama, akan tampak bahwa setiap paragraf  merupakan satu unit buah pikiran. Buah pikiran itu diungkap­kan dengan beberapa kalimat yang saling berhubungan dan bersama-sama mendukung sebuah unit pikiran.
Mengapa tulisan dibuat paragraf per paragraf? Dengan pertanyaan lain, apa fungsi paragraf? Penulisan paragraf mempunyai beberapa fungsi yang dapat dilihat dari sudut penulis dan pembaca.

Dari Sudut Penulis
1. Paragraf menjadi wadah untuk mengungkapkan unit buah pikiran penulis. Seperti menjahit baju, penjahit perlu menjahit bagian lengan dulu, kemudian bagian punggung, bagian depan, bagian leher, dan bagian saku. Keseluruhan yang dibuat itu untuk menghasilkan niat semula, yaitu selembar baju. Demikian pula seorang penulis. Untuk menyampaikan buah pikirannya, penulis perlu me­nyampaikannya bertahap, yaitu setiap unit buah pikiran ditulis dalam sebuah paragraf. Bila berpindah ke unit buah pikiran lain, penulis menyampaikannya melalui paragraf baru. Paragraf-paragraf yang berisi unit-unit buah pikiran itu secara bersama-sama mendukung keseluruhan buah pikiran yang akan disampaikan penulis. Bila tidak diatur paragraf per paragraf, berarti penulis harus me­nuangkan buah pikirannya sekaligus. Hal ini tentu membuat penulis mengalami banyak kesulitan. Sebalik­nya, dengan adanya wadah berupa paragraf itu penulis dengan mudah dapat menuangkan unit-unit buah pikir­annya.
2. Penulis dapat menyampaikan buah pikirannya secara teratur dan runtut. Dengan "wadah" berupa paragraf-paragraf itu, penulis dapat memisahkan tiap-tiap unit pikirannya dan tidak akan campur aduk dengan unit pikir­annya yang lain. Dengan demikian, alur jalan pikirannya akan semakin jelas.
3. Penulis tidak lekas lelah dalam upaya menyelesaikan tulisannya. Ibarat mendaki tangga, pendaki akan cepat mengalami kelelahan bila mendaki terus-menerus tanpa henti. Itulah sebabnya, anak tangga dari lantai satu ke lantai dua, misalnya, selalu ada bidang datar (biasanya di belokan) tempat pendaki beristirahat sejenak. Demikian pula penulis. Dengan adanya paragraf-paragraf itu, penulis dapat berhenti sejenak pada akhir paragraf, lalu melanjut­kan menulis unit pikiran berikutnya. Itulah sebabnya, penulis yang ingin beristirahat selalu mengakhiri tulisan­nya pada akhir paragraf. Bila hendak melanjutkan lagi, dia selalu memulai dengan paragraf baru.
4. Dalam keseluruhan tulisan/karangan, paragraf dapat dimanfaatkan sebagai pengantar, transisi, atau kesimpulan. Sebagai pengantar, paragraf itu memberi tahu dan meng­arahkan pikiran pembaca ke masalah yang akan dibahas. Sebagai transisi, paragraf berfungsi membelokkan pikiran pembaca dari satu masalah ke masalah lain. Selanjutnya, paragraf juga sering digunakan untuk menyimpulkan pokok-pokok pikiran yang telah diuraikan.

Dari Sudut Pembaca
1. Pembaca dapat menangkap buah pikiran penulis dengan mudah karena buah pikiran itu disampaikan unit per unit. Kemudahan itu sangat dirasakan kalau kalimat-kalimat dalam paragraf itu tidak terlalu banyak. Jika terlalu banyak, pembaca mengalami kesulitan menangkap inti unit buah pikiran pembaca. Sebaliknya, bila paragraf terdiri atas tiga, dua, atau mungkin satu kalimat, pikiran pembaca akan meloncat-loncat. Pembaca akan cepat bosan, bahkan mungkin menjadi jengkel.
2. Memudahkan pembaca "menikmati" tulisan. Ibarat makan nasi goreng satu piring, kita tidak menghabiskan sekaligus, tetapi sesendok demi sesendok. Setelah menelan satu sendok, kita mulai lagi mengunyah satu sendok berikut­nya. Dari menikmati sesendok demi sesendok itu lambat laun nasi goreng satu piring habis. Demikian pula pembaca. Setelah membaca satu paragraf, pembaca dapat me­mahami dan menikmati sebuah unit buah pikiran, lalu menikmati buah pikiran dalam paragraf berikutnya. Dengan menikmati paragraf demi paragraf itu, lambat laun pembaca dapat menghabiskan tulisan dalam satu buku.
3. Pembaca tidak lekas lelah. Seandainya tulisan tidak dibagi paragraf per paragraf, pembaca seolah-olah dipaksa mem­baca dari awal sampai akhir. Tentu saja pembaca akan terengah-engah dan muda lelah. Sebaliknya dengan ada­nya paragraf-paragraf itu, pembaca dapat berhenti beberapa saat pada akhir paragraf sambil memahami, menafsirkan, atau menyimpulkan isi paragraf. Selain ber­istirahat sejenak, pembaca dapat menyiapkan pikirannya untuk menerima unit buah pikiran baru yang tersaji dalam paragraf berikutnya. Dengan cara seperti itu pembaca dapat mengikuti alur buah pikiran penulis dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Keuntungan bagi penulis dan pembaca seperti diuraikan di atas akan tampak nyata sekali bila kita bandingkan dengan tulisan zaman dulu ketika bahasa Indonesia (waktu itu masih bernama bahasa Melayu) menggunakan ejaan Arab Melayu. Waktu itu, jangankan tulisan diatur paragraf demi paragraf, tanda baca titik saja tidak ada. Jadi dalam sebuah tulisan, yang tampak seolah-olah dari awal sampai akhir hanya satu paragraf, atau bahkan terlihat hanya satu kalimat. Sebab, tanda baca untuk mengakhiri kalimat tidak ada. Pembaca hanya menduga bahwa sebuah kalimat sudah berakhir kalau menjumpai ungkapan misalnya, bahwa sesungguhnya, sebagai tanda awal kalimat baru. Nah, dengan mengetahui awal kalimat baru itu pembaca lalu menyimpulkan bahwa kalimat sebelum­nya sudah berakhir atau titik. Sebaliknya, penggunaan huruf latin dan tanda-tanda baca yang lengkap (sesuai dengan EYD) dan pengaturan paragraf demi paragraf sangat membantu pembaca untuk memahami isi bacaan.**